Sedikit Rangkuman Kitab Putri Mulajadi

Kitab ini berisikan tentang kehidupan wanita hingga memperoleh anak termasuk para putri titisan Allah juga mengenai para ratu air.

Laklak Boru Debata (Kitab Putri Mulajadi)
Selama satu tahun, manuk-manuk hulambu jati mengeram tiga ruas bambu, kemudian dari tiga ruas bambu tersebut keluarlah tiga orang wanita yang bernama :
  1. Siboru Porti Bulan
  2. Siboru Malinbindabini
  3. Siboru Anggasana
Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda: “Wahai engkau Siboru Porti Bulan kimpoilah engkau dengan Batara Guru! Engkau boru Malimbindabini kimpoilah engkau dengan Debata Sori! Engkau Siboru Anggasana kimpoilah engkau dengan Debata Bulan!” Aku akan memberitahukan kepada kalian bagaimana terjadinya manusia selama sembilan bulan dalam kandungan ibu dan tiga bulan di kandung ayah. Jika delapan bulan dalam kandungan ibu, maka empat bulan dikandung ayah, sebab terjadinya manusia harus setelah tiga kali Panenabolon singgah di empat desa mengelilingi bumi ini, lalu aku akan memberikan kuasa kepada kalian agar menguasai air beserta isinya. Uruslah anak-anakmu kelak dan bantulah manusia yang tidak mempunyai keturunan”. Pada jaman dahulu kala dokter spesialis kandungan belum ada. Yang ada hanya dukun beranak (Sibaso Nabolon) yang mengurus sejak dikandungan sampai dilahirkan.

1. Kodrat Kandungan
Menurut orang Batak, khususnya Ugamo Malim terjadinya manusia menjalani rentang waktu selama dua belas bulan. Di dalam kandungan ibu hanya sembilan bulan, dimanakah tiga bulan lagi? Menurut orang Batak yang tiga bulan lagi dikandungan ayahnya, sebab jika tidak bersemayam dalam kandungan ayahnya selama tiga bulan, bagaimanapun si ibu tidak akan mengandung.

Terjadinya manusia dalam sembilan bulan.

Bulan I
Benih tiga bulan dalam kandungan Ayah Benih kejadian dalam Ibu Roh dari Rohani bercampur dengan Roh Jasmani ditambah kodrat Mulajadi berdiam dibumi suci di rahim ibu.

Bulan 2
Telah bertambah Debata na tolu dibumi suci mendapat getaran, Jika sudah ketemu berbentuk.

Bulan 3
Telah berada dalam bumi suci, dan sudah dapat berdenyut. Tambahan Debata na tolu masuknya warna merah, putih, hitam.

Bulan 4
Pada bulan keempat, sudah dalam proses pembentukan kulit. Pada saat ini Ibu mulai merasa mual, karena sudah mulai bergerak.

Bulan 5
Pada bulan kelima proses terjadinya otak manusia dalam bumi suci.

Bulan 6
Proses bulan keenam adalah proses terjadinya urat manusia dan sudah mulai bergerak.

Bulan 7
Pada bulan ketujuh proses terjadinya tulang.

Bulan 8
Pada bulan kedelapan bayi sudah hampir rampung dan sudah mulai bolak-balik, serta mulai terjadinya rambut.

Bulan 9
Proses pemisahan air ketuban
Proses pemisahan bungkus
Proses pemisahan tali-tali
Proses pemisahan darah pengiring maut
Dan tinggal menunggu hari lahirnya.

Setelah sembilan bulan dalam kandungan maka bayi tersebut mulai berputar, selama tujuh hari, tiba pada hari ketujuh setelah bayi tersebut berputar tujuh kali, maka pintu bumi pun terbuka dan bayi tersebut keluar kemudian menangis memulai hidup ke zaman mulia. Perlu kita ketahui bahwa selama hidup hanya satu kali kita bisa lihat wujud roh manusia yaitu ARI-ARI. 

2. Asal Kesempurnaan Hidup
Oleh sebab itu maka kita harus mengetahui adanya manusia sempurna pada keadaan yang sejati, seperti sang makhluk yang pulang pada zamannya. Jika telah terdesak dialamnya sendiri dan telah berwujud satu, maka akan lahir kedunia setelah :
Cahaya gemilang turun kepada bayi.Budi turun pulang kepada adjsan.Raksa turun pulang kepada miral.Rupa turun pulang kepada arwah.Warna turun pulang kepada wasdayat.Bau turun pulang kepada wahdat.Angan turun pulang kepada hadijat.Hidup turun pulang kepada insan.

Insan sempurna terang benderang dari kodrat Debata Natolu adalah pria dan wanita. Manusia yang sempurna didalam hidup di bumi suci setelah memiliki :
  • Kulit - Rambut
  • Otak - Daging
  • Urat - Darah
  • Tulang - Sumsum
Adapun empat saudara kelima darinya dalam wujud adalah :
  • Air tuban
  • Bungkus
  • Temburi (Ari-ari)
  • Darah pengiring budak
  • Pancar ( telah sempurna kepada kodrat Yang Maha Mulia selama-lamanya )
  • Hitam bernyala merah
  • Merah bernyala kuning
  • Kuning bernyala putih
  • Putih bernyala murni
  • Kulit bernyala daging
  • Kulit bernyala tulang
  • Tulang bernyala kawat (urat)
  • Urat bernyala cahaya ( kata nujum manusia sempurna di bumi suci )
Demikianlah ringkasan isi dari Kitab Putri Mulajadi atau Laklak Boru Debata. Semoga bermanfaat...


Megenal Tari Merak Asal Jawa Barat

Tari Merak adalah salah satu tari tradisional asal Jawa Barat yang menggambarkan ekspresi dan kehidupan burung merak. Dan lazimnya burung merak, tarian ini dibawakan oleh penari perempuan ini begitu anggun dan penuh pesona daya tarik. Dan seniman yang pertama kali menciptakan tari merak ini adalah seorang seniman Pasundan yang bernama Raden Tjetje Somantri  pada tahun 1950an. Beliau merangkum gerakan-gerakan burung merak dalam satu koreografi cantik nan anggun. Gerak utama yang menjadi ruh dari tari merak ini adalah gerakan burung merak jantan yang mengembangkan ekor indahnya untuk memikat merak betina. Maka tak heran, meski tarian ini dilakukan oleh penari perempuan tapi gerakan-gerakannya seperti gerakan merak jantan dalam menarik hati merak betina.

Namun, seiring berlalunya waktu, tari merak pun mengalami sedikit perubahan dari koreografi awalnya ketika diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, meski tentu saja tak menghilangkan ruh dari tarian tersebut. Adalah Dra. Irawati Durban Arjon, seniman yang kemudian menambahkan gerakan-gerakan baru pada tarian ini yang membuatnya makin kaya akan gerakan-gerakan indah. Sejarah Tari Merak tidak hanya sampai disitu karena pada tahun 1985 gerakan Tari Merak pun kembali direvisi dan ditambahkan gerakan-gerakan baru.

Mengenai kostum penari, sebagaimana nama tariannya, para penari memakai kostum  dengan motif dan warna yang berhungan dengan bulu merak. Kain dan bajunya menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak seperti warna hijau, biru dan hitam. Ditambah dengan sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau ekor merak yang sedang dikembangkan. Para penari juga menggunakan mahkota yang makin menambah motif burung merak. 

Dengan kostum yang cantik itu, para penari (biasanya tiga atau lebih) akan menari bersamaan menggambarkan gerakan-gerakan burung merak nan indah. Dan dari penari yang menari secara berbarengan itu, masing-masing penari mengambil perannya masing-masing, yakni ada yang berperan sebagai merak jantan dan merak betina. Untuk iringan gendingnya sendiri, tarian ini biasanya dipentaskan dengan iringan gending Macan Ucul. Dan dalam salah satu babak tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan. Gerakan merak yang anggun dan mempesona tergambar dari gerakan Tari Merak yang penuh keceriaan dan keanggunan.  

Tari ini sering digunakan untuk menyambut pengantin pria atau sebagai hiburan untuk tamu dalam acara pernikahan. Selain itu karena kepopuleran Tari Merak, tari ini juga banyak ditampilkan dalam acara nasional dan internasional.

Menelisik Asal Usul Suku Bajo

Asal-usul Suku Bajo, atau yang biasa dijuluki dengan istilah manusia perahu, terdiri dari beberapa versi. Versi yang paling terkenal adalah bahwa Suku Bajo berasal dari para prajurit kerajaan Johor, Malaysia yang diperintahkan oleh raja mereka untuk mencari putri raja yang hilang di laut lepas. Dikabarkan bahwa pada masa itu sang putri raja bertamasya mengarungi lautan Nusantara. Tapi karena satu dan lain sebab, akhirnya sang putri hilang dan ktak kembali. Maka, atas titah raja, beberapa prajurit kerajaan ditugasi untuk mencari sang putri yang hilang dengan catatan tak boleh kembali ke kerajaaan apabila sang putri belum ditemukan.

Singkat cerita, karena sang putri tak juga ditemukan, akhirnya para prajurit itu memutuskan untuk tak kembali ke kerajaan dan memilih untuk menetap di perahu mengikuti arah angin yang membawa perahu mereka. Maka dari sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Hal ini menjadi yang kemudian menjadi cikal bakal adanya suku Bajo yang kemudian tinggal di atas perahu dan berpindah-pindah dan menyebar hingga seluruh nusantara.  

Versi lain menyatakan bahwa Suku Bajo berasal dari Vietnam dan Philipina. Argumen ini didasarkan pada banyaknya kemiripan bahasa yang digunakan Suku Bajo dengan bahasa Tagalog di Philipina dan Vietnam. 

Nama “Bajo” sendiri bukanlah nama asli dari suku ini. Suku Bajo menyebut diri mereka sebagai Suku Same, sementara sebutan untuk orang diluar suku mereka, mereka menyebutnya dengan istilah Suku Bagai. Kata Bajo sendiri oleh beberapa kalangan diyakini berasal dari kata yang berkonotasi bajak laut. Meski banyak kalangan yang membantah konotasi ini, menurut tutur yang berkembang bahwa pada jaman dahulu banyak dari bajak laut yang memang berasal dari Suku Same, yakni satu suku yang memang hidup dan tinggal di perahu ini dan menyebar hingga ke seluruh nusantara. Sehingga, suku laut apa pun di bumi nusantara ini kerap di sama artikan sebagai suku Bajo. 

Pada Suku Bajo, dikenal empat kelompok masyarakat yang didasarkan pada karakteristik mereka dalam kaitannya dengan aktifitas mereka di lautan. Empat kelompok masyarakat ini dikenal dengan sebutan sebagai berikut;
  1. Kelompok Lilibu; yakni Suku Bajo yang biasanya mengarungi lautan hanya satu dua hari untuk mencari ikan dan jarak melautnya pun tidak terlalu jauh. Setelah ikan didapat, kelompok ini biasanya segera ‘pulang’ untuk bertemu keluarganya. Perahu kyang digunakan oleh kelompok ini biasanya berukuran kecil yang bernama soppe dan dikendalikan menggunakan dayung.
  2. Kelompok Papongka; yakni Suku Bajo yang bisa dikenali dengan aktifitas melautnya yang hanya seminggu dua minggu saja untuk mencari ikan. Perahu yang digunakan oleh kelompok ini hampir sama dengan kelompok Lilibu. Hanya saja, berbeda dengan kelompok Lilibu, jarak tempuh mereka bisa lebih jauh dan keluar pulau. Bila dirasa telah memperoleh hasil atau kehabisan air bersih, mereka akan menyinggahi pulau-pulau terdekat. Setelah menjual ikan-ikan tangkapan dan mendapat air bersih, mereka pun kembali ke laut. 
  3. Kelompok Sakai; yakni Suku Bajo yang memiliki kebiasaan mencari ikan yang wilayah kerjanya jauh lebih luas. Bila kelompok Papongka hitungannya hanya keluar pulau, maka kelompok Sakai hitungannya sudah antar pulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Mereka bisa berada di “tempat kerja”nya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. 
  4. Kelompok Lame; yakni Suku Bajo yang bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih modern. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Karena, mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan, mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. 


Kepercayaan dan Adat Istiadat Suku Bajo
Meskipun Suku bajo beragama Islam, namun mereka masih hidup dalam dimensi leluhur. Budaya mantera-mantera, sesajen serta kepercayaan roh jahat masih mendominasi kehidupan mereka. Peran dukun masih sangat dominan untuk menyembuhkan penyakit serta untuk menolak bala atau memberikan ilmu ilmu. Orang Bajo sangat mempercayai setan-setan yang berada di lingkungan sekitarnya. Rumah dan dapur-dapur mereka. Mereka percaya pantangan-pantangan dan larangan, seperti misalnya larangan meminta kepada tetangga seperti minyak tanah, garam, air atau apapun setelah magrib. Mereka juga percaya dengan upacara tebus jiwa. Melempar sesajen ayam ke laut. Artinya kehidupan pasangan itu telah dipindahkan ke binatang sesaji. Ini misalnya dilakukan oleh pemuda yang ingin menikahi perempuan yang lebih tinggi status sosialnya. Masyarakat Suku Bajo menyebut rumah palemana atau rumah di atas perahu. Karena masyarakat Suku Bajo bermukim dan mencari nafkah diatas laut. Karena itulah mereka mendapat julukan sebagai manusia perahu.

Menurut masyarakat Suku Bajo bahwa pemanasan global sekarang, orang-orang Bajo kesulitan memantau perubahan iklim. Padahal biasanya mereka sangat presisi dalam mengantisipasi. Gelombang pasang, letusan gunung berapi bisa diprediksi jauh hari sebelumnya. Untuk berlayar di siang hari, pada saat mereka tidak bisa melihat pantai, mereka mengandalkan ombak dan angin. Pada malam hari, bintang bintanglah yang menunjukan jalan. Mereka menyebut bintang itu mamau atau karangita. Mamau atau karangita bisa menjadi penunjuk arah yang dituju. Suku Bajo, memiliki keyakinan penuh atas sebuah ungkapan, bahwa Tuhan telah memberikan bumi dengan segala isinya untuk manusia. Keyakinan tersebut tertuang dalam satu Falsafah hidup masyarakat Bajo yaitu, ‘Papu Manak Ita Lino Bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana‘, artinya Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita sebagai manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya. Sehingga laut dan hasilnya merupakan tempat meniti kehidupan dan mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur suku Bajo. Dalam suku Bajo, laki-laki atau pria biasa dipanggil dengan sebutan Lilla dan perempuan dengan sebutan Dinda.

Toraja: The Burial that Can Ruin You

*By: Stefan Anitei

Indonesia makes the world’s largest archipelago, with 17,000 islands. One of its largest islands is Sulawesi (Celebes), which is like a bridge between Australia and Asia. A particular universe in Sulawesi is represented by Tanah Toraja (”the Land of the Highlanders”), in the southern part of the island, dominated by the Rante-Kombola peak, 3,455 m (11,516 ft) tall.

The Toraja people consider that the soul is the most important notion and their religion is connected to one of the most spectacular burial rituals in the world, aimed to save the soul of the deceased, easing its way to the other world, that of the gods and spirits of the ancestors. Toraja myths say that Rante-Kombola is the place the first people descended from on a stone ladder. Soon, the gods broke it, and the rocks of Bamba Puang are just remains of the sky ladder. In 1905, Dutch troops defeated the resistance of the Toraja warriors, after one year of fights. The courage of the famous and fierce head-hunter Toraja warriors could do nothing against the modern weaponry as they used spears, swords, shields or threw pepper towards the Dutch soldiers. The Dutch army was soon followed by missionaries of the Reformed Church, with the aim of converting the locals to Christianity and forbid the older customs and traditions. The Dutch were especially worried with how whole families got ruined by the funerary ceremonies asked by dluk, the ancestral religion. The violent revolt of 1917 showed the church that tactics had to be changed and the conversion methods had to be more subtle. With all the efforts, during the colonial period, just 10 % of the Toraja shifted for Christian religion. Paradoxically, a massive conversion occurred after Indonesia achieved its independence in 1965, to reach 86 % in 1980. 

The two-souled people
Today, only few Toraja people follow the ancestral animist beliefs. For them, the world has three levels. The sky is the upper level, ruled by the supreme god Puang Matua, the creator of the people, animals and plants. The land is the intermediary level. The underground is the domain of the spirits, darkness and death. Two other spheres influence the domain of the people. One is located in the southwest, being populated by the spirits of the ancestors, and the other in the northeast, belonging to the already deified ancestors. The Toraja tradition says the people have 2 souls. The first is dewata, the divine soul, which leaves us when we die and ascends to Puang Matua, entering in its service, being put to watch at the compliance of the traditional religion canons, the way of the ancestors called “aluk to dolo”. The second soul is “bombo”, the wandering soul of the dead, the terrestrial and human side. It splits in two, one remaining in the tomb with the dead, and the other hanging around. To reach Puya, the kingdom of the dead, where they will keep on existing, the souls must bypass many obstacles, fact that turns possible only owing to the support of the close relatives, which will accomplish rigorously a whole array of rites, grouped in several stages. From his death to the first ceremony, the man is considered ill and lain on the floor of the house, with the head to the west and feet to the east. Then, the body is prepared: it is washed, the intestines are emptied and it is anointed with palm oil, after which it is wrapped in stripes of white fabric. The relatives cry loudly, but nobody pronounces the word “dead”. 

The start of the ceremony
The first ceremony starts immediately or after a while - sometimes weeks, months, up to one year, until all the necessary stuffs are gathered. It starts through animal sacrifices. First, buffaloes (kerabau), whose number varies depending on the caste of the dead, are sacrificed. In the case of the nobles, their number can be of 60-100. These massacres can ruin families. Dutch authorities tried to limit the number of the killed buffaloes to at most 40 and they also forbid one of the cruelest phases of the sacrifice, when the animals, still alive, were cut into pieces. The Indonesian government also limited drastically the number of sacrificed animals, imposing a high fee for each killed buffalo. Only after the kill of the first buffalo, the person is considered dead. On the back of the second sacrificed buffalo, the soul of the dead leaves the village. The sacred animal of the Toraja accompanies them into the world of the spirits. At the end of the ceremony, the horns of the sacrificed buffaloes will be stringed on a pole in front of the house, the one supporting the roof, as a proof of the social status of the dead. Then, the alimentary mourning starts, when rice consume is forbidden, and the wake, with the pray reciting, songs and circle dances, the people holding each other’s little fingers. This is Ma’Badong. Relatives and friends start bringing offerings: buffaloes, pigs and rice. The flags of the deceased are raised in front of the house. The body is again wrapped in fabrics, taking the look of a large roll, due to the repeated coverings. Near the dead, a man carefully registers into a notebook each offering and its traits: the shape of the horns of the buffalo, its coat spots and so on. The quantity and quality of the offerings decide the inheritance share! Even the debts of the dead are inherited. But sometimes, the expense of the burial, together with the debts, may overmatch the value of the inheritance. 

Megaliths on the sacred plain
The sacrifice of the pigs is devoid of pomp and spectators. Knives pierce their hearts. Their death is necessary as the ceremonies require meat. The festivity and the dead move to the plain, Ranta, the sacred field of the aligned megaliths. These menhirs have the weirdest shapes: square, circular, puckered or prolonged. Each stone is a commemorative monument, proof of a mortuary festivity. Some menhirs are taller than 6 m (20 ft) and can reach 8 tonnes. Others are small, of 20-30 cm (0.6-1 ft). Then, the dead is brought back to his home. 

The second ceremony
The next funerary ceremony takes place 9 days after the first one, or later - several months or several years (up to 20!), the deadline for the relatives to save the funds necessary for the festivity. The dead remains all this time inside the house, his body has not touched the tomb, and his soul is still searching for its way…The same rites are restarted.

The festivity amplifies. The dead is put out of the house in a coffin that must not touch the ground, being carried on a hearse resembling a Toraja house. He is carried through the fields and rice paddies, in the sounds of the gong, in the vast field of Ma’Palolo. A long line of mourning people follow him. The buffaloes and the other animals to be sacrificed finish the cortege. The coffin is placed among the menhirs, in a previously prepared platform.

Around the sacred field, a village of huts has been built, for hosting the hundreds of guests. Buffaloes and pigs are sacrificed again, and the meat is shared between the guests. At the shadow of the trees, people eat and drink palm wine. Prays are recited. Ma’maraka is sung by vocalists; their words attempt to comfort the family, expressing, at the same time, the support of the community. 

The last ceremony
It takes place in the day called “towards the tomb”. The dead will leave the field of menhirs. The coffin, located on the hearse, is carried on the shoulders of the men. After years of wandering, this is the last journey. The procession, accompanied by singing, reaches the funerary promenade. It is a large calcareous rock, in which liangs, the sepulchers of the families, are carved. A large ladder made of a tall bamboo stem with notches, will allow the ascend of the coffin to the liang. It is a difficult action, which requires skill and maxim effort. People go home. 30 days later, the relatives renounce to the mourning clothes. The soul of the dead has reached the kingdom of the spirits, watching for the wellbeing of the relatives and friends. 

The funerary promenade
The entrance into the liang is covered by a richly decorated wooden plate. Under the window of the liang, a horned buffalo head is figured. Amongst the liangs, there are lodges hosting Tau-tau nangka (”small characters”), effigy dummies, representations of the dead, made of the wood of the breadfruit tree (Artocarpus) and dressed in fabrics. They lean carelessly on the wood bar keeping them prisoners in the narrow space of their balconies. The dummies differ in facial expressions, clothing and size; the clothes are bleached by sun and rain. Some wear cigarettes in their mouths or imitate life postures, like tiredness. Men wear a type of turban or hats, whiter shirts, and over the shirt, a jacket or tog. On the right shoulder, there is a sarong. The lower body is covered by trousers or a long skirt. The necks are adorned with traditional collars or talismans made of pig teeth.

Women wear a black fabric around their heads and simple blouses. Tau-tau nangka are sought today by many museums and collectors, and because of the massive thefts, many Toraja hid their dummies in caves or guard the lodges, which are closed with lattices, shutters and latches and only shown to group of tourists.

A different type of tombs
Other tombs are located in natural grottoes, at tens of meters from their entrance, where the fabric rolls with the decomposed bodies pile. Some grottoes host huge coffins called erongs. They are the oldest necropolises in Tana Toraja. Erongs were cut in huge tree trunks and were box shaped with a lid, having the look of a boat and remembering the roofs of the Toraja houses. The surface was carefully polished and decorated. A braid of curb lines was separated from space to space by lozenges or squares. The same motifs are today found on the Toraja houses. The tradition of the erongs is today long forgotten.

Membaca Kaba Puteri Bunga Karang Lewat Puisi

Rusli Marzuki Saria (kelahiran Kamang, Bukittinggi, 26 Pebruari 1936), termasuk salah seorang penyair Indonesia yang menulis puisi bertolak dari nilai-nilai sub-kultur daerahnya. Lewat puisi, Rusli berusaha mengucapkan dirinya sebagai warga sub-kultur Minangkabau, di mana “kaba” merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang terkenal di daerahnya. Beberapa puisi Rusli memperlihatkan pengaruh yang kuat kepada kaba Minangkabau itu. Ia telah melahirkan puisi yang berolak dari cerita kaba itu sendiri.


Puisi berjudul “Puteri Bunga Karang”, misalnya, memperlihatkan usaha Rusli untuk mengungkapkan (kembali) permasalahan yang terdapat di dalam kaba “Bunga Karang”. Dalam hal ini, kritikus Mursal Esten (1981) mengatakan, “Puisi Rusli berjudul “Puteri Bunga Karang” itu memang lebih baik dari puisi-puisinya yang lain, karena permasalahan yang ada dalam kaba “Bunga Karang” dihayatinya dengan baik, sebagai warga dari sub-kultur Minangkabau. Dia merasakan di dalamnya. Di dalam permasalahan yang diungkapkan puisi itu.” -Dasril Ahmad, dalam “Puteri Bunga Karang” Rusli Marzuki Saria: Puisi yang Bertolak dari Akar Tradisi-

Nah, untuk lebih jelasnya, ini dia puisi Rusli Marzuki Saria yang berjudul Puteri Bunga Karang;

Puteri Bunga Karang

1
Awan merendah. Angin berpusar-pusar
Puteri Bunga Melur keluar dari muara Muar
Sebuah lancing kecil
Kisah ini dirawikan lewat kaba

Kuserahkan diriku pada gelombang dan pasang
Laut bernyanyi. Camar melayang-layang
Antara batang Muar dan pulau Pagai
Dimana engkau kekasihku: Nahkoda Muda

Bandar Muar. Kapal-kapal bersandar
Alangkah ramainya
Puteri Bunga Melur hilang dalam kelambu

Inang dan dayang-dayang istana
Berlari ke ruang tepi. Yang tinggal hanya
Enam puadai kencana

2
Malam turun di istana bandar Muar
Anak raja Bugis itu duduk sendiri. Bagai
burung kehilangan pasangannya
Desah laut, kilat cahaya

Puteri Bunga Melur yang rait
di balik kabut malam bandar Muar
Tercoreng malu anak raja Bugis
sang puteri menghilang tanpa berita

Sumpah telah mendera buat bersetia
Janji mengikuti kekasih masing-masing
dan meninggalkan negeri ini

Apakah yang lebih sakti daripada sumpah:
tenggelam ke dasar laut
daripada menyerah kepada nasib?

3
“Dari Tiku ke Kuraitaji
Anak payang membeli limas
Biarlah aku mungkir janji
Karena loyang gantinya emas…”

Puteri Bunga Melur juga yang terisak
Tentang janji, sumpah dan setia
Sebab ikrar itu sudah terucapkan
“…biar bersama-sama membuang diri ke laut lepas”

Bandar Muar seharian penuh sesak
Perahu, pencalang, sekunar, jukung dan tongkang
Lancang dan sampan bagai ikan badar terlantar

“Mengapa aku kakak katakan edan?”
Barangkali nasib tersirat diam-diam
Dari kesunyian masing-masing

4
Gelombang menari-nari di sini
menjilat lidah pasir
Di mulut muara
batang Muar

Pasang naik, matahari pun naik
Puteri Bunga Melur ingat kekasih
Nahkoda Muda-Sutan Kinali
Tunangan tak resmi mekar dalam hati

Jodoh dalam batin
dibawa retak tangan
Teguh dalam janji
sangsai dalam penderitaan

5
Puteri Bunga Melur yang sendiri
dalam lancang
Ditelan lautan
di hari-hari pelarian

Nahkoda Muda terlintas-lintas di mata
bergayut di pucuk buih
Di laut pagai
dan arus amat kencangnya

Telah kutulis nasibku
di atas daun sirih
Dengan kapur gunung sebatang
dari hari pertama

Begitu sunyinya nasib
dalam igau
Purnama marak
bersembunyi di balik kabut

6
Kuminta angin berembus
dan badai reda
Lancang kecil
di atas samudera

Kuminta bintang-bintang
menuntun lancangku
Di malam begini hitam
petir menghantam

Nahkoda-
Nahkodaku
Kekasihku
Tunanganku

Lihatlah laut pasang
Dengarlah gelombang mengerang
Di mana engkau nahkodaku
Kucari kau ke sini - di pulau Pagai!

7
Puteri Tunggal nan Jombang sang ibunda
Terisak-tersedu
Karena sang puteri lari
tinggalkan calon suaminya

Puteri Tunggal nan Jombang
tak dapat dirawikan
Kemarahannya
dan malunya

Didamiknya dadanya
dibantun-bantunnya
rambut di kepala
dengan sangat garangnya

Lengkisau hari-harinya
datang berpusaran
Api di telapak tangan
tenggelam dengan erat

8
Bulan tersipu di atas laut
Ketika ombak berderai
Dan angin tenang
Tanpa pasang

Nyanyian masalampau
rabuk masadepan
bersatu di sini
di atas karang

Puteri Bungsu bercinta
dengan laut
Ketika ombak Purus
bernyanyi dan mengeluh

Kau jabat tangan waktu
dengan ragi kasihsayang
Tuak kelapa Pagai
memabukan ku!

9
Telah kau lepas rindu
Puteri Bungsu-
Di balik purnama
mengintai bencana

Di atas peraduan tak ditemukan engkau
Yang tinggal jejak di pasir
Dan wangian sedapmalam
Kembang angsoka

Kau pilih lari malam hari
Bersinar bintang kala
Laut mengeram malam hari

Kau serahkan dirimu pada gelombang
Sebelum badai tiba
Malam gelap gulita

10
Awan bergumpal hitam di atas lautan
Elang laut berkepak. Nasib juga sedang
menunggu Puteri Bungsu
Ketika sumpah itu diucapkan

Puteri Tunggal nan Jombang menyeru:
“Anak kualat, anak celaka….!
Anak yang tak tahu membalas guna…
Memberi malu kepada orang banyak”

“Atas kesusahanku mengandung dan
melahirkannya ke dunia,
ya Allah, kalau ia ada di daratan
diterkam dan diserkah harimau laparlah ia,
jika masuk kuala, ke sungai atau ke lautan
tertumbuk dan terlepaslah lancang
yang dinaikinya ke batu karang…”

Sumpah itu sudah terucapkan
ketika pitam
Sang Bunda Alam

11
Gagak terbang di senja. Kita bercerita
tentang laut mengamuk
Dan kisah cinta yang remuk
Antara Pagai dan bandar Muar

Terlintas sebuah rumah buat haritua
Ketika kau dulu mengimpikannya
Bunga ros yang mekar serta lila
Dalam taman berdua

Tapi nasib tetap juga dalam suratan
tangan. Tergenggam erat di tanganmu
Dan terbengkalai

Di balik musim usia telah jadi
kulit limau berkerinyut. Menanti
lapuk di kemarau panjang

12
Jaringlawa terbentang di siang
Menungu mangsa yang letih di perburuan
yang panjang. Langit biru, awan menyisih
Ringkik kuda ditelan cakrawala

Telah bermusim dukaku di sini
bertahta. Kabut melintas batas
Dan suara itu melolong di malam
panjang sekali

Kusulam asib yang bengis
dalam sunyi sendiri
Kau ajuk lautku biru
di hari-hari kelabu

Buyung! Disini sajalah main dadu
di bawah pohon randu
Silang-sengketa nasib
dalam perjalanan rahib

13
Gelombang memanggil aku
Badai sedang menanti aku
Gelap malam hitam
Menunggu aku!

Kuserahkan jiwa kepadamu
Laut biru dalam
Bersetubuh denganmu
Dalam kelam

Kuingat kecupan yang panas
Badai panas matahari khatulistiwa
Lidah ular berbisa

Airmu menari-nari
Anginmu berpusar-pusar
Awanmu merendah

14
Kutulis riwayatmu
Kueja namamu
Dari hari ke hari
Dari saat ke saat

Kubaca deritamu
lewat gelombang
Kubaca sukacitamu
lewat garistangan

Puteri Bungsu
puteri terakhir
yang lahir

Puteri Bungsu
laut sedang bergelombang
laut bakal pasang

15
Beri aku laut yang menggelegak
dan angin panas melambai
Kubakar diriku di dalamnya
sepuas-puasnya

Beri aku laut yang mendidih
dan badai khatulistiwa
Benamkan aku ke dasar paling dalam
sampai ke keraknya

Dengan seluruh tubuh terbakar
Aku ingin jabat tanganmu
dalam ngigau

Kau itu Ibu Kehidupan
ibu alam pemurah
ibu alam pemarah

16
Haritua bagai rumah di pantai
Bunga-bunga melenggok dan patah rantingnya
Tak ada derik dan angin mati
seketika

Masadepan kayu-kayu hutan berbunga
Burung2 menyanyi. Matahari terbangun
pagi hari. Sipongang berkejaran sepanjang
lembah

Puteri Terakhir sedang berpacu dengan kabut
di luas laut. Menuju Pagai
Menuju sang kekasih

Bagai harimau laut mengaum
Angin berpusar sepanjang malam dan siang
Pagai jauh kekasih jauh

17
Kutolak badai menggila tapi sia-sia
Lancangku kandas, air laut berputar-putar
dibawahnya. Wajah Nahkoda Muda
Sekali-sekali datang. amboi, gagahnya!

Tidak. Tidak, aku ingin berkubur di sini!
Di perut laut mengeram, Pagai terlihat
Jauh sekali. Ibu Alam yang pemarah
Aku ingin mencium kakimu

Tidak. Tidak, aku ingin sampai padanya
Tanah tepi di mana Nahkoda Muda
membuang sauh. Dan kapal-kapal tertambat

Tidak. Tidak, Puteri nan Bungsu
Laut tak bisa kau suruh diam
Sebentar lagi matahari akan tenggelam

18
Senja pekat bagai pukat hitam
Gerimis rait, petir bersabung ke malam
Gelombang tak tertahan oleh empu jari
Lancang Puteri nan Bungsu itu pecah!

Nasib. Retak tangan dan Ibu Alam yang marah
Badai menghempas. Gelombang membelah
Kusandang nasib hitamku sebelum menjelang
Pagai. Laut berderai, amboi!

Aku ingin berumah di sini. Rumah kaca
di mana aku bisa ngintip mambang
dan peri. Atau wajah Nahkoda Muda

Aku ingin berumah di sini. Di mana laut
bernyanyi malam hari. Memanggil-manggil
kekasih nun jauh sekali.

19
Jangan lagi kau kejar, petir malam hari
Lancangku pecah. Dan aku di sini saja di tengah
gerimis. Pendayung patah tiga
Dan urat2ku mulai kaku

Jangan lagi aku kau kejar, petir malam hari
Nanti aku jadi batuhitam, digerayangi
lumut-lumut plankton. Di mana gelombang
pecah di pangkuanku

Aku sekarang gadis remaja yang sedang
bercinta. Bernyanyi malam hari kupetik
kecapi. Dawai2nya, ah dawai2nya!

Aku sekarang gadis remaja yang sedang
mimpi. Berumah di tengah samudera
Mengintip dalam rumah kaca : di mana engkau kekasihku

20
Ibu Alam yang pemarah - langit jadi
hitam. Jerat telah memangsaku untuk
berumah di sini, dalam palung laut ini
Dan kuminta hanya badai serta laut gemuruh

Ibu Alam yang pemarah - aku anakmu,
Puteri Bunga Melur - Puteri nan Bungsu
Puteri Terakhir
yang kau lahirkan

Akulah puterimu yang bercinta! Memendam
Rindu dan kasihsayang. Lari dari rumah
dengan lancang. Ketika pertunanganku
dengan anak raja Bugis itu berlangsung

Kuminta badai, angin, gelombang
memecah ke dadaku
Di tengah samudera antara Pagai-Padang
- Akulah Puteri Bunga Karang!

Ulakkarang,
Padang 1977/1978