Tari Topeng Madura


Salah satu jenis tari pertunjukkan yang banyak muncul di berbagai daerah di Indonesia salah satunya adalah tari topeng. Dari mulai topeng Cirebon, topeng Malang hingga topeng Madura, dan daerah-daerah lainnya terutama yang pada zaman dahulu masuk ke dalam wilayah kerajan Singosari dan kemudian Majapahit . Menurut beberapa literature, tari topeng memang kerap ditarikan para raja Jawa yang salah satunya adalah Hayam Wuruk yang konon menari di depan kaum perempuan.

Nah, dari sekian tari topeng yang ada di Indonesia ini, salah satu ari topeng yang menarik adalah tari topeng dari Madura. Pada dasarnya tari topeng dari madura ini hampir sama dengan tari topeng Malang, mengingat kedua daerah ini pada abad ke 13 memiliki latar belakang sejarah yang sama yakni menjadi bagian dari kerajaan Singosari. Yang membedakan keduanya mungkin hanya pada sisi cerita dan setting panggung saja.

Kalau tari topeng Malang unsur penceritaannya merupakan tentang kisah hidup Panji, maka cerita yang dianggit oleh tari Topeng Madura ini lebih kepada cerita Ramayana dan Mahabarata dengan penekanan cerita kepada tokoh Pandawa dan Kurawa yang selalu berselisih sebelum kemudian akhirnya terjadi perang baratayudha jaya binangun. Di samping itu, perbedaan yang mencolok di tari topeng keduanya adalah pada layar yang di pasang sebagai background pertunjukan. Kalau tari topeng Malang lebih sering menggunakan tabir polos tanpa ornamen sebagai latar belakang, maka tari topeng Madura ini lebih semarak yakni adanya gambar-gambar dan sebagainya yang dikreasikan sebagai kelir yang tak jarang juga menjadi unsur penting dan bagian dari cerita yang dipentaskan.

para pemain tari topeng Madura

Unsur terpenting dalam pertunjukan topeng dalang Madura, seperti halnya juga tari topeng Malang, yakni adanya sang dalang yang menampilkan cerita, menyuarakan percakapan antar tokoh, dan di saat bersamaan puluhan penari memainkan peran masing-masing. Sang dalang ini bersembunyi di balik tabir dengan bagian yang telah dilubangi agar sang dalang yang akan menarasikan jalannya cerita tidak kesulitan dalam mengikuti gerak sang penari di atas panggung.

Pertunjukan ini biasanya akan dibuka dengan tari Ksatria Kelana Tunjungseta yang membawa serta empat raksasa pengiring. Cerita yang terkandung dalam tari pembuka ini sendiri adalah tentang dewa Siwa yang sedang mengirim Kelana Tanjungseta beserta anak buahnya untuk mengawasi keadaan serta perilaku manusia di bumi. Kemudian setelah itu barulah cerita itu bergulir yang biasanya menitik beratkan pada perjalanan hidup Pandawa dan Kurawa dengan iringan musik dari gamelan laras slendro atau bernada lima dengan gending-gending khas Madura sendiri.