Menelusuri Keindahan dan Makna di Balik Tarian Adat Suku Ambon

Saat langkah-langkah satu per satu mereka bergerak mengikuti irama yang penuh semangat, tarian adat suku Ambon menjadi simbol kekayaan budaya Timur Indonesia. Dengan gerakan anggun dan kostum megah, tarian ini tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga sarana mengisahkan kisah-kisah masa lalu suku Ambon yang begitu menggugah hati.

Keindahan Tarian Adat Suku Ambon

Tarian adat suku Ambon, seperti halnya tarian tradisional lainnya, bukan hanya sekedar hiburan. Ia menyatu dalam identitas budaya suatu komunitas, menjadi wujud ekspresi mendalam dan kebanggaan kolektif. Keunikan tarian ini terletak pada kemampuannya memelihara warisan sejak zaman dahulu, melewati rentang waktu dan generasi, hingga tetap hidup dan bermakna hingga hari ini.

Salah satu contoh tarian adat Ambon yang paling mencolok adalah "Cakalele." Dengan menggunakan alat musik tradisional seperti pukulan beduk dan tifa, Cakalele mampu membangkitkan semangat juang gagah berani dari suku Ambon. Inspirasi tarian ini sendiri bersumber dari legenda-heroik yang menceritakan perjuangan raja-raja Ambon melawan penjajah. Melalui gerakan berani para penari dengan senjata mereka, tarian ini melambangkan semangat keberanian dan ketangguhan suku Ambon.


Eksplorasi Tarian Adat Lainnya

Selain Cakalele, Suku Ambon memiliki sejumlah tarian adat menarik, dan salah satunya adalah "Sajojo". Dalam tarian ini, para penari bergandengan tangan dan melangkah indah seiring dengan irama musik khas. Tarian ini tak hanya menggambarkan kehidupan suku Ambon yang penuh kegembiraan, tetapi juga menciptakan gambaran tentang kebersamaan dan kehidupan bersatu dengan alam sekitarnya.

Namun, keindahan tarian adat suku Ambon tidak hanya terletak pada gerakan dan musiknya. Kostum yang dipakai oleh para penari juga menarik perhatian dengan detail artistik dan warna-warna cerah. Setiap serat kain dan ornamen pada kostum ini membawa makna dan sejarah tersendiri, menggambarkan kekayaan warisan budaya suku Ambon.


Pentingnya Pelestarian Budaya

Sumarni, seorang penari adat suku Ambon yang berdedikasi, menyampaikan, "Kami berusaha menjaga warisan budaya ini agar tetap hidup. Tarian adat suku Ambon tidak hanya tentang gerakan dan kostum, tetapi juga tentang semangat dan keberanian." Inilah yang membuat tarian adat suku Ambon menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Maluku.

Sebagai penggemar budaya Indonesia, menyaksikan tarian adat suku Ambon bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan sebuah pengalaman tak terlupakan. Melalui gerakan dan musik yang sarat semangat, kita dapat merasakan getaran jiwa suku Ambon dan kehidupan berwarna mereka dalam pertunjukan yang menggetarkan hati.


Mengenal Lebih Dekat Tarian Adat Suku Ambon

Apa Itu Tarian Adat Suku Ambon?

Tarian adat suku Ambon adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya suku Ambon yang berasal dari Maluku, Indonesia. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian penting dari acara-acara pernikahan, penyambutan tamu penting, atau perayaan budaya lainnya.\

Cara dan Tips Menari Tarian Adat Suku Ambon

Untuk menari tarian adat suku Ambon dengan baik, beberapa langkah dan tips perlu diperhatikan:

  1. Memahami Gerakan Dasar: Sebelum memulai, pahami gerakan dasar seperti langkah kaki, gerakan tangan, dan ekspresi wajah dalam tarian.
  2. Mengenal Musik dan Instrumen: Tarian ini disertai dengan musik tradisional dan instrumen seperti tifa, gong, dan suling. Pahami jenis musik dan instrumen untuk mengikuti irama dengan baik.
  3. Berlatih dengan Guru Tari: Belajar dari seorang guru tari berpengalaman dapat membantu memahami gerakan kompleks dan mendapatkan koreksi yang tepat.
  4. Memahami Makna dan Cerita Tarian: Tarian adat suku Ambon sering memiliki makna dan cerita tertentu. Pahami hal ini untuk dapat mengekspresikannya dengan baik saat menari.
  5. Mengenakan Pakaian Adat: Kenakan pakaian adat suku Ambon agar tampilan lebih autentik.

Dengan mengikuti tips di atas dan berlatih secara teratur, siapa pun dapat menari tarian adat suku Ambon dengan baik dan merasakan pengalaman budaya yang mendalam.


Kelebihan dan Kekurangan Tarian Adat Suku Ambon

Kelebihan:

  • Terbuka untuk Segala Usia: Bisa dinikmati oleh semua kalangan usia.
  • Mewakili Identitas Budaya: Menjadi cara suku Ambon memperkuat identitas budaya dan melestarikannya.
  • Menggabungkan Fisik dan Mental: Memerlukan koordinasi tubuh dan kesadaran mental.
  • Meningkatkan Kesenangan dan Rasa Bangga: Menari tarian adat suku Ambon dapat memberikan perasaan senang dan bangga.
  • Promosi Pariwisata: Berpotensi mempromosikan pariwisata daerah tersebut.


Kekurangan:

  • Kurangnya Pemahaman Masyarakat: Tidak semua masyarakat memahami tarian adat suku Ambon.
  • Keterbatasan Akses: Sulit diakses oleh orang-orang di luar Maluku.
  • Risiko Penghilangan Tradisi: Ancaman dari perkembangan budaya global yang dapat mengancam tradisi ini.
  • Membutuhkan Komitmen: Menari tarian adat suku Ambon membutuhkan komitmen dan dedikasi yang tinggi.
  • Membutuhkan Perguruan Tari yang Terpercaya: Penting untuk belajar dari perguruan tari yang berkualitas.


Kesimpulan

Tarian adat suku Ambon adalah warisan budaya yang tak ternilai. Dalam setiap gerakan dan irama, kita dapat merasakan getaran jiwa suku Ambon, menangkap kehidupan yang berwarna dan makna yang dalam. Jangan ragu untuk menjelajahi lebih lanjut, bergabung dengan komunitas tarian, dan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya yang berkelanjutan. Melalui tarian adat suku Ambon, mari kita terus jaga dan dukung keberlanjutan kekayaan budaya yang membanggakan Indonesia.

Ken Arok: Figur Misterius dalam Kitab Pararaton

Kitab Pararaton adalah salah satu naskah kuno yang menceritakan sejarah Jawa pada abad ke-14 hingga ke-15. Dalam kitab ini terdapat banyak tokoh-tokoh penting yang memainkan peran utama dalam sejarah Nusantara. Salah satu tokoh yang menarik perhatian dalam Kitab Pararaton adalah Ken Arok. Namanya mungkin kurang dikenal di luar lingkungan sejarah Jawa, tetapi kisahnya yang penuh misteri dan kontroversi layak untuk dijelajahi lebih dalam.

Latar Belakang Ken Arok

Ken Arok adalah seorang tokoh yang kontroversial dalam Kitab Pararaton. Kisah hidupnya diwarnai oleh berbagai versi yang berbeda, dan sumber-sumber sejarah tidak selalu konsisten. Namun, ia dikenal sebagai pendiri Kerajaan Singhasari yang merupakan cikal bakal bagi kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Majapahit.

Kisah hidup Ken Arok dimulai dari statusnya sebagai seorang penjahat yang tinggal di desa Tumapel. Ia dijuluki Ken Arok, yang berarti "susu sapi" dalam bahasa Jawa, karena kemiripan fisiknya dengan seorang anak sapi. Ia menjalani hidup sebagai peminta-minta dan pencuri kecil.


Jatuh Cinta pada Ken Dedes

Perubahan besar dalam hidup Ken Arok terjadi ketika ia bertemu dengan Ken Dedes, seorang wanita cantik yang kemudian menjadi istri Tunggul Ametung, seorang penguasa setempat. Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes dan memutuskan untuk merebutnya. Ia mengakali Tunggul Ametung dengan berpura-pura ingin menjadi anak angkatnya.

Ketika rahasia Ken Arok terungkap, ia membunuh Tunggul Ametung dan mengambil Ken Dedes sebagai istrinya. Namun, pernikahan mereka juga tidak berjalan mulus. Konon, Ken Dedes menjadi sumber konflik di antara suami-suaminya yang akhirnya mengakibatkan penggulingan Ken Arok dari Singhasari.


Ken Arok sebagai Pendiri Singhasari

Meskipun kisah pribadi Ken Arok penuh kontroversi, ia adalah tokoh yang penting dalam sejarah Jawa karena dianggap sebagai pendiri Kerajaan Singhasari. Setelah merebut Ken Dedes, Ken Arok memperkuat posisinya dan mendirikan Singhasari. Ia adalah raja pertama Singhasari yang berkuasa pada sekitar tahun 1222-1227 Masehi.

Dalam pemerintahannya, Ken Arok memimpin pasukan Singhasari dalam berbagai ekspedisi militer untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang berani dalam pertempuran dan memiliki kemampuan strategi yang hebat. Singhasari di bawah pemerintahannya tumbuh menjadi kekuatan besar yang mendominasi Jawa pada masanya.


Misteri di Seputar Kematian Ken Arok

Kematian Ken Arok juga merupakan bagian misterius dalam kisahnya. Menurut beberapa sumber, ia tewas dalam pertempuran melawan raja Kediri, Anusapati. Namun, versi lain dari kisah ini mengklaim bahwa Ken Arok tewas dalam konspirasi di dalam istananya.

Salah satu teori mengatakan bahwa Ken Dedes, istrinya, adalah otak di balik pembunuhan Ken Arok karena ia ingin membalaskan dendam terhadap suaminya yang pernah merampok suaminya sebelum menikah dengannya. Namun, teori ini masih diperdebatkan, dan kisah sebenarnya di balik kematian Ken Arok tetap menjadi misteri.


Warisan Ken Arok

Meskipun hidupnya penuh kontroversi dan misteri, Ken Arok meninggalkan warisan bersejarah yang kuat di pulau Jawa. Setelah kematiannya, Kerajaan Singhasari berlanjut di bawah pemerintahan anaknya, Anusapati, dan cucunya, Panji Tohjaya. Selanjutnya, Singhasari bertransisi menjadi Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara yang pernah ada.

Kisah hidup Ken Arok mengingatkan kita bahwa sejarah sering kali kompleks dan penuh misteri. Meskipun ia dimulai sebagai seorang penjahat, ia akhirnya menjadi tokoh penting dalam membentuk masa depan pulau Jawa. Kisahnya juga mengajarkan kita bahwa kehidupan manusia sering kali tidak hitam putih, dan banyak hal yang bisa mengubah arahnya.

Dalam Kitab Pararaton, Ken Arok mungkin hanya satu dari banyak tokoh yang mengisi lembaran-lembaran sejarah Jawa. Namun, kisah hidupnya yang dramatis dan misterius telah memastikan bahwa namanya tidak akan pernah terlupakan dalam warisan budaya Indonesia.

-----

Gambar diambil dari: solata-sejarahbudaya dan historyofcirebon

Kejawen, Pandangan Hidup Orang Jawa


Kejawen berasal dari kata Jawa dan atau Kejawaan yang berarti seperangakat pedoman hdup yang berhubungan dengan adat istiadat dan kepercayan orang Jawa. Dinamakan kejawen adalah karena bahasa yang digunakan dalam ajarannya menggunakan bahasa Jawa. Pada dasarnya sebagian besar penganut kejawen tidak pernah menyebut kejawen sebagai sebuah agama meskipun dalam ajarannya terdapat laku yang pelaksanaannya hampir sama dengan ibadah dalam konteks agama.

Salah satu yang menganggap Kejawen sebagai sebuah agama adalah oleh penganut Kapitayan. Selain dari itu, kejawn lebih dianggap sebagai filsafat hidup atau pedoman hidup orang Jawa yang didalamnya berisi tentang tata krama dan laku lampah orang Jawa. Karena pada dasarnya orang-orang yang mengamalkan ajaran kejawen ini sejatinya memiliki agama sendiri-sendiri. Oleh karenanya kita biasa mengenal istilah Islam Kejawen, Kristen Kejawen, Hindu Kejawen dan sebagainya. 

Sejak sebelum datangnya agama-agama yang kita kenal sekarang, pada dasarnya orang Jawa sudah mengakui akan keesaan Tuhan. Salah satu ajaran Kejawen tentang keesaan Tuhan adalah Sangkan Paraning Dumadhi dan Manunggaling Kawula lan Gusthi, yang inti ajarannya tentang kesadaran diri akan dari asal usul manusia. Dari mana ia datang maka kesitulah ia akan berpulang. Dari kemanunggalan dengan Gusti itu kemudian ajaran Kejawen mengajarkan pemeluknya untuk memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 

  • Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
  • Mamayu Hayuning Kulawarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
  • Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
  • Mamayu Hayuning Bhawana (sebagai rahmat bagi alam semesta) 

Melihat dari ajaran inti Kejawn ini, ajaran kejawen lebih menekankan pada keseimbangan hidup yang oleh karenanya ia sangat terbuka dengan ajaran agama yang dianut setelahnya. Kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jati dirinya sebagai orang pribumi.

Kejawen juga dalam opini umum berarti seperangkat ajaran yang berisikan tradisi, ritual, Spiritual, sikap dan seni orang Jawa. Salah dua laku spiritual orang Jawa yang diajarkan oleh Kejawen adalah tentang Pasa (berpuasa) dan Tapa (bertapa). Dan karena ajaran Kejawen lebih berfokus kepada keseimbangan hidup maka penganut Kejawen hampir tidak pernah memikirkan tentang perluasan ajarannya melainkan lebih menitik beratkan pada pembinaan kepada pemeluknya.

Simbol-simbol laku yang digunakan dalam ajaran kejawen ini menekankan pada simbol-simbol yang bersifat wingit seperti keris, wayang, mantra-mantra dan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik. Makanya tak heran jika ajaran kejawen ini kemudian diadopsi oleh beberapa kalangan untuk praktik-praktik perdukunan dan klenik, padahal jika kita telisik lebih jauh hal-hal seperti itu tidak pernah ada dalam ajaran kejawen. 

Untuk laku Pasa (berpuasa) sendiri ajaran kejawen ini memiliki banyak sekali variasi berpuasa seperti:

  1. Pasa Weton yakni laku berpuasa pada tanggal kelahiran yang mengacu pada kalender Jawa.
  2. Pasa Sekeman yaitu berpuasa setiap hari Senin dan Kamis.
  3. Pasa Wulan yaitu kegiatan berpuasa selama tiga hari pada setiap tanggal 13-15 yang mengacu pada Kalender Jawa.
  4. Pasa Dawud yakni berpuasa selang-seling, sehari puasa sehari tidak.
  5. Pasa Ruwah yaitu berpuasa pada tanggal 28 dan 29 di bulan Ruwah (bulan Arwah).
  6. Pasa Apit Kayu yaitu kegiatan berpuasa pada 10 hari pertama di bulan ke-12 kalender Jawa.
  7. Pasa Sura yakni kegiatan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 di bulan Sura.
  8. Pasa Mutih yakni berpantang pada makanan yang mengandung rasa dan hanya membolehkan makan nasi putih dan air putih saja.
  9. Pasa Patigeni yaitu berpuasa sehari semalam tanpa makan makan, minum, tidur dan harus berada di kamar tanpa cahaya apapun.
  10. Pasa Ngebleng yakni kegiatan berpuasa dan tidak boleh keluar kamar kecuali hanya untuk buang air kecil atau air besar.
  11. Pasa Ngalong yaitu kegiatan berpuasa dan tidak tidur.
  12. Pasa Ngrowot yaitu kegiatan berpantang dari makan nasi dan daging, hanya makan buah-buahan dan sayur mayur saja.
  13. Pasa Wungon yaitu kegiatan berpuasa sambil duduk bersila, kedua tangan diletakkan di atas lutut sambil berkonsentrasi apa yang diinginkan.
  14. Pasa Tapa Jejeg yaitu kegitana berpuasa sambil tetap berdiri setidaknya selama 12 jam. 
  15. Pasa Ngelowong yakni berpuasa dengan waktu yang ditentukan sendiri, misalnya 3 jam atau 6 jam. 

Untuk kitab sucinya sendiri ajaran kejawen tidak memiliki kitab suci, hal inilah yang kemudian mematahkan anggapan orang bahwa kejawen adalah sebuah agama.Tapi meskipun Kejawen tidak memiliki kitab suci, segala ajaran kejawen bisa ditemukan pada kitab-kitab karangan filsuf Jawa yang bisa diklasifikasi berdasarkan isi dan bentuknya. Karya tulis dari filsuf dan pujangga Jawa itu antara lain:

  1. Kakawin (Sastra Kawi) yang nerupakan Kitab sastra metrum kuno (lama) yang berisi wejangan yang ditulis dalam bentuk jurnal atau perjalanan dan ditulis menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Kitab ini berisi 5 kitab utama. 
  2. Macapat (Sastra Carakan) yakni kitab yang ditulis dengan gaya perjalanan dan mirip dengan kakawin tapi ditulis pada waktu yang lebih baru. Kitab ini berjumlah 82 kitab dan ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa, meski beberapa kitab diantaranya ada yang ditulis menggunakan huruf Pegon. 
  3. Babad (Sejarah) adalah Kitab yang menceritakan sejarah nusantara berjumlah lebih dari 15 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno serta aksara Jawa dan bahasa Jawa.
  4. Suluk (Jalan Spiritual) yakni kitab sastra yang pembacaannya bisa ditembangkan dan berisi tentang laku supranatural dan ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa dan Pegon. Kitab ini berjumlah tak kurang dari 35 kitab. 
  5. Kidung (Doa-doa) yaitu sekumpulan doa-doa atau mantra-mantra yang dibaca dengan nada khas, sama seperti halnya doa lain ditujukan kepada tuhan bagi pemeluknya masing-masing yang berjumlah 7 kitab, ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa.
  6. Piwulang (Pengajaran) yaitu kitab yang mengajarkan tatanan terdiri dari Pituduh (Perintah) dan Wewaler (Larangan) untuk membentuk pribadi yang hanjawani, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa.
  7. Primbon (Himpunan) yang berupa kitab praktik praktis dalam pelaksanaan tatanan adat sepanjang waktu, juga biasanya dilengkapi cara untuk membaca gelagat alam semesta untuk memprediksi kejadian. ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa.

Naskah-naskah yang tersebut di atas pada intinya tentang ajaran kejawen berdasarkan siklus hidup manusia, mulai dari kelahiran, perkawinan hingga kematian.


***

Sumber gambar: Wikipedia

Sedikit Rangkuman Kitab Putri Mulajadi

Kitab ini berisikan tentang kehidupan wanita hingga memperoleh anak termasuk para putri titisan Allah juga mengenai para ratu air.

Laklak Boru Debata (Kitab Putri Mulajadi)
Selama satu tahun, manuk-manuk hulambu jati mengeram tiga ruas bambu, kemudian dari tiga ruas bambu tersebut keluarlah tiga orang wanita yang bernama :
  1. Siboru Porti Bulan
  2. Siboru Malinbindabini
  3. Siboru Anggasana
Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda: “Wahai engkau Siboru Porti Bulan kimpoilah engkau dengan Batara Guru! Engkau boru Malimbindabini kimpoilah engkau dengan Debata Sori! Engkau Siboru Anggasana kimpoilah engkau dengan Debata Bulan!” Aku akan memberitahukan kepada kalian bagaimana terjadinya manusia selama sembilan bulan dalam kandungan ibu dan tiga bulan di kandung ayah. Jika delapan bulan dalam kandungan ibu, maka empat bulan dikandung ayah, sebab terjadinya manusia harus setelah tiga kali Panenabolon singgah di empat desa mengelilingi bumi ini, lalu aku akan memberikan kuasa kepada kalian agar menguasai air beserta isinya. Uruslah anak-anakmu kelak dan bantulah manusia yang tidak mempunyai keturunan”. Pada jaman dahulu kala dokter spesialis kandungan belum ada. Yang ada hanya dukun beranak (Sibaso Nabolon) yang mengurus sejak dikandungan sampai dilahirkan.

1. Kodrat Kandungan
Menurut orang Batak, khususnya Ugamo Malim terjadinya manusia menjalani rentang waktu selama dua belas bulan. Di dalam kandungan ibu hanya sembilan bulan, dimanakah tiga bulan lagi? Menurut orang Batak yang tiga bulan lagi dikandungan ayahnya, sebab jika tidak bersemayam dalam kandungan ayahnya selama tiga bulan, bagaimanapun si ibu tidak akan mengandung.

Terjadinya manusia dalam sembilan bulan.

Bulan I
Benih tiga bulan dalam kandungan Ayah Benih kejadian dalam Ibu Roh dari Rohani bercampur dengan Roh Jasmani ditambah kodrat Mulajadi berdiam dibumi suci di rahim ibu.

Bulan 2
Telah bertambah Debata na tolu dibumi suci mendapat getaran, Jika sudah ketemu berbentuk.

Bulan 3
Telah berada dalam bumi suci, dan sudah dapat berdenyut. Tambahan Debata na tolu masuknya warna merah, putih, hitam.

Bulan 4
Pada bulan keempat, sudah dalam proses pembentukan kulit. Pada saat ini Ibu mulai merasa mual, karena sudah mulai bergerak.

Bulan 5
Pada bulan kelima proses terjadinya otak manusia dalam bumi suci.

Bulan 6
Proses bulan keenam adalah proses terjadinya urat manusia dan sudah mulai bergerak.

Bulan 7
Pada bulan ketujuh proses terjadinya tulang.

Bulan 8
Pada bulan kedelapan bayi sudah hampir rampung dan sudah mulai bolak-balik, serta mulai terjadinya rambut.

Bulan 9
Proses pemisahan air ketuban
Proses pemisahan bungkus
Proses pemisahan tali-tali
Proses pemisahan darah pengiring maut
Dan tinggal menunggu hari lahirnya.

Setelah sembilan bulan dalam kandungan maka bayi tersebut mulai berputar, selama tujuh hari, tiba pada hari ketujuh setelah bayi tersebut berputar tujuh kali, maka pintu bumi pun terbuka dan bayi tersebut keluar kemudian menangis memulai hidup ke zaman mulia. Perlu kita ketahui bahwa selama hidup hanya satu kali kita bisa lihat wujud roh manusia yaitu ARI-ARI. 

2. Asal Kesempurnaan Hidup
Oleh sebab itu maka kita harus mengetahui adanya manusia sempurna pada keadaan yang sejati, seperti sang makhluk yang pulang pada zamannya. Jika telah terdesak dialamnya sendiri dan telah berwujud satu, maka akan lahir kedunia setelah :
Cahaya gemilang turun kepada bayi.Budi turun pulang kepada adjsan.Raksa turun pulang kepada miral.Rupa turun pulang kepada arwah.Warna turun pulang kepada wasdayat.Bau turun pulang kepada wahdat.Angan turun pulang kepada hadijat.Hidup turun pulang kepada insan.

Insan sempurna terang benderang dari kodrat Debata Natolu adalah pria dan wanita. Manusia yang sempurna didalam hidup di bumi suci setelah memiliki :
  • Kulit - Rambut
  • Otak - Daging
  • Urat - Darah
  • Tulang - Sumsum
Adapun empat saudara kelima darinya dalam wujud adalah :
  • Air tuban
  • Bungkus
  • Temburi (Ari-ari)
  • Darah pengiring budak
  • Pancar ( telah sempurna kepada kodrat Yang Maha Mulia selama-lamanya )
  • Hitam bernyala merah
  • Merah bernyala kuning
  • Kuning bernyala putih
  • Putih bernyala murni
  • Kulit bernyala daging
  • Kulit bernyala tulang
  • Tulang bernyala kawat (urat)
  • Urat bernyala cahaya ( kata nujum manusia sempurna di bumi suci )
Demikianlah ringkasan isi dari Kitab Putri Mulajadi atau Laklak Boru Debata. Semoga bermanfaat...


Menelisik Asal Usul Suku Bajo

Asal-usul Suku Bajo, atau yang biasa dijuluki dengan istilah manusia perahu, terdiri dari beberapa versi. Versi yang paling terkenal adalah bahwa Suku Bajo berasal dari para prajurit kerajaan Johor, Malaysia yang diperintahkan oleh raja mereka untuk mencari putri raja yang hilang di laut lepas. Dikabarkan bahwa pada masa itu sang putri raja bertamasya mengarungi lautan Nusantara. Tapi karena satu dan lain sebab, akhirnya sang putri hilang dan ktak kembali. Maka, atas titah raja, beberapa prajurit kerajaan ditugasi untuk mencari sang putri yang hilang dengan catatan tak boleh kembali ke kerajaaan apabila sang putri belum ditemukan.

Singkat cerita, karena sang putri tak juga ditemukan, akhirnya para prajurit itu memutuskan untuk tak kembali ke kerajaan dan memilih untuk menetap di perahu mengikuti arah angin yang membawa perahu mereka. Maka dari sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Hal ini menjadi yang kemudian menjadi cikal bakal adanya suku Bajo yang kemudian tinggal di atas perahu dan berpindah-pindah dan menyebar hingga seluruh nusantara.  

Versi lain menyatakan bahwa Suku Bajo berasal dari Vietnam dan Philipina. Argumen ini didasarkan pada banyaknya kemiripan bahasa yang digunakan Suku Bajo dengan bahasa Tagalog di Philipina dan Vietnam. 

Nama “Bajo” sendiri bukanlah nama asli dari suku ini. Suku Bajo menyebut diri mereka sebagai Suku Same, sementara sebutan untuk orang diluar suku mereka, mereka menyebutnya dengan istilah Suku Bagai. Kata Bajo sendiri oleh beberapa kalangan diyakini berasal dari kata yang berkonotasi bajak laut. Meski banyak kalangan yang membantah konotasi ini, menurut tutur yang berkembang bahwa pada jaman dahulu banyak dari bajak laut yang memang berasal dari Suku Same, yakni satu suku yang memang hidup dan tinggal di perahu ini dan menyebar hingga ke seluruh nusantara. Sehingga, suku laut apa pun di bumi nusantara ini kerap di sama artikan sebagai suku Bajo. 

Pada Suku Bajo, dikenal empat kelompok masyarakat yang didasarkan pada karakteristik mereka dalam kaitannya dengan aktifitas mereka di lautan. Empat kelompok masyarakat ini dikenal dengan sebutan sebagai berikut;
  1. Kelompok Lilibu; yakni Suku Bajo yang biasanya mengarungi lautan hanya satu dua hari untuk mencari ikan dan jarak melautnya pun tidak terlalu jauh. Setelah ikan didapat, kelompok ini biasanya segera ‘pulang’ untuk bertemu keluarganya. Perahu kyang digunakan oleh kelompok ini biasanya berukuran kecil yang bernama soppe dan dikendalikan menggunakan dayung.
  2. Kelompok Papongka; yakni Suku Bajo yang bisa dikenali dengan aktifitas melautnya yang hanya seminggu dua minggu saja untuk mencari ikan. Perahu yang digunakan oleh kelompok ini hampir sama dengan kelompok Lilibu. Hanya saja, berbeda dengan kelompok Lilibu, jarak tempuh mereka bisa lebih jauh dan keluar pulau. Bila dirasa telah memperoleh hasil atau kehabisan air bersih, mereka akan menyinggahi pulau-pulau terdekat. Setelah menjual ikan-ikan tangkapan dan mendapat air bersih, mereka pun kembali ke laut. 
  3. Kelompok Sakai; yakni Suku Bajo yang memiliki kebiasaan mencari ikan yang wilayah kerjanya jauh lebih luas. Bila kelompok Papongka hitungannya hanya keluar pulau, maka kelompok Sakai hitungannya sudah antar pulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Mereka bisa berada di “tempat kerja”nya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. 
  4. Kelompok Lame; yakni Suku Bajo yang bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih modern. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Karena, mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan, mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. 


Kepercayaan dan Adat Istiadat Suku Bajo
Meskipun Suku bajo beragama Islam, namun mereka masih hidup dalam dimensi leluhur. Budaya mantera-mantera, sesajen serta kepercayaan roh jahat masih mendominasi kehidupan mereka. Peran dukun masih sangat dominan untuk menyembuhkan penyakit serta untuk menolak bala atau memberikan ilmu ilmu. Orang Bajo sangat mempercayai setan-setan yang berada di lingkungan sekitarnya. Rumah dan dapur-dapur mereka. Mereka percaya pantangan-pantangan dan larangan, seperti misalnya larangan meminta kepada tetangga seperti minyak tanah, garam, air atau apapun setelah magrib. Mereka juga percaya dengan upacara tebus jiwa. Melempar sesajen ayam ke laut. Artinya kehidupan pasangan itu telah dipindahkan ke binatang sesaji. Ini misalnya dilakukan oleh pemuda yang ingin menikahi perempuan yang lebih tinggi status sosialnya. Masyarakat Suku Bajo menyebut rumah palemana atau rumah di atas perahu. Karena masyarakat Suku Bajo bermukim dan mencari nafkah diatas laut. Karena itulah mereka mendapat julukan sebagai manusia perahu.

Menurut masyarakat Suku Bajo bahwa pemanasan global sekarang, orang-orang Bajo kesulitan memantau perubahan iklim. Padahal biasanya mereka sangat presisi dalam mengantisipasi. Gelombang pasang, letusan gunung berapi bisa diprediksi jauh hari sebelumnya. Untuk berlayar di siang hari, pada saat mereka tidak bisa melihat pantai, mereka mengandalkan ombak dan angin. Pada malam hari, bintang bintanglah yang menunjukan jalan. Mereka menyebut bintang itu mamau atau karangita. Mamau atau karangita bisa menjadi penunjuk arah yang dituju. Suku Bajo, memiliki keyakinan penuh atas sebuah ungkapan, bahwa Tuhan telah memberikan bumi dengan segala isinya untuk manusia. Keyakinan tersebut tertuang dalam satu Falsafah hidup masyarakat Bajo yaitu, ‘Papu Manak Ita Lino Bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana‘, artinya Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita sebagai manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya. Sehingga laut dan hasilnya merupakan tempat meniti kehidupan dan mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur suku Bajo. Dalam suku Bajo, laki-laki atau pria biasa dipanggil dengan sebutan Lilla dan perempuan dengan sebutan Dinda.

Toraja: The Burial that Can Ruin You

*By: Stefan Anitei

Indonesia makes the world’s largest archipelago, with 17,000 islands. One of its largest islands is Sulawesi (Celebes), which is like a bridge between Australia and Asia. A particular universe in Sulawesi is represented by Tanah Toraja (”the Land of the Highlanders”), in the southern part of the island, dominated by the Rante-Kombola peak, 3,455 m (11,516 ft) tall.

The Toraja people consider that the soul is the most important notion and their religion is connected to one of the most spectacular burial rituals in the world, aimed to save the soul of the deceased, easing its way to the other world, that of the gods and spirits of the ancestors. Toraja myths say that Rante-Kombola is the place the first people descended from on a stone ladder. Soon, the gods broke it, and the rocks of Bamba Puang are just remains of the sky ladder. In 1905, Dutch troops defeated the resistance of the Toraja warriors, after one year of fights. The courage of the famous and fierce head-hunter Toraja warriors could do nothing against the modern weaponry as they used spears, swords, shields or threw pepper towards the Dutch soldiers. The Dutch army was soon followed by missionaries of the Reformed Church, with the aim of converting the locals to Christianity and forbid the older customs and traditions. The Dutch were especially worried with how whole families got ruined by the funerary ceremonies asked by dluk, the ancestral religion. The violent revolt of 1917 showed the church that tactics had to be changed and the conversion methods had to be more subtle. With all the efforts, during the colonial period, just 10 % of the Toraja shifted for Christian religion. Paradoxically, a massive conversion occurred after Indonesia achieved its independence in 1965, to reach 86 % in 1980. 

The two-souled people
Today, only few Toraja people follow the ancestral animist beliefs. For them, the world has three levels. The sky is the upper level, ruled by the supreme god Puang Matua, the creator of the people, animals and plants. The land is the intermediary level. The underground is the domain of the spirits, darkness and death. Two other spheres influence the domain of the people. One is located in the southwest, being populated by the spirits of the ancestors, and the other in the northeast, belonging to the already deified ancestors. The Toraja tradition says the people have 2 souls. The first is dewata, the divine soul, which leaves us when we die and ascends to Puang Matua, entering in its service, being put to watch at the compliance of the traditional religion canons, the way of the ancestors called “aluk to dolo”. The second soul is “bombo”, the wandering soul of the dead, the terrestrial and human side. It splits in two, one remaining in the tomb with the dead, and the other hanging around. To reach Puya, the kingdom of the dead, where they will keep on existing, the souls must bypass many obstacles, fact that turns possible only owing to the support of the close relatives, which will accomplish rigorously a whole array of rites, grouped in several stages. From his death to the first ceremony, the man is considered ill and lain on the floor of the house, with the head to the west and feet to the east. Then, the body is prepared: it is washed, the intestines are emptied and it is anointed with palm oil, after which it is wrapped in stripes of white fabric. The relatives cry loudly, but nobody pronounces the word “dead”. 

The start of the ceremony
The first ceremony starts immediately or after a while - sometimes weeks, months, up to one year, until all the necessary stuffs are gathered. It starts through animal sacrifices. First, buffaloes (kerabau), whose number varies depending on the caste of the dead, are sacrificed. In the case of the nobles, their number can be of 60-100. These massacres can ruin families. Dutch authorities tried to limit the number of the killed buffaloes to at most 40 and they also forbid one of the cruelest phases of the sacrifice, when the animals, still alive, were cut into pieces. The Indonesian government also limited drastically the number of sacrificed animals, imposing a high fee for each killed buffalo. Only after the kill of the first buffalo, the person is considered dead. On the back of the second sacrificed buffalo, the soul of the dead leaves the village. The sacred animal of the Toraja accompanies them into the world of the spirits. At the end of the ceremony, the horns of the sacrificed buffaloes will be stringed on a pole in front of the house, the one supporting the roof, as a proof of the social status of the dead. Then, the alimentary mourning starts, when rice consume is forbidden, and the wake, with the pray reciting, songs and circle dances, the people holding each other’s little fingers. This is Ma’Badong. Relatives and friends start bringing offerings: buffaloes, pigs and rice. The flags of the deceased are raised in front of the house. The body is again wrapped in fabrics, taking the look of a large roll, due to the repeated coverings. Near the dead, a man carefully registers into a notebook each offering and its traits: the shape of the horns of the buffalo, its coat spots and so on. The quantity and quality of the offerings decide the inheritance share! Even the debts of the dead are inherited. But sometimes, the expense of the burial, together with the debts, may overmatch the value of the inheritance. 

Megaliths on the sacred plain
The sacrifice of the pigs is devoid of pomp and spectators. Knives pierce their hearts. Their death is necessary as the ceremonies require meat. The festivity and the dead move to the plain, Ranta, the sacred field of the aligned megaliths. These menhirs have the weirdest shapes: square, circular, puckered or prolonged. Each stone is a commemorative monument, proof of a mortuary festivity. Some menhirs are taller than 6 m (20 ft) and can reach 8 tonnes. Others are small, of 20-30 cm (0.6-1 ft). Then, the dead is brought back to his home. 

The second ceremony
The next funerary ceremony takes place 9 days after the first one, or later - several months or several years (up to 20!), the deadline for the relatives to save the funds necessary for the festivity. The dead remains all this time inside the house, his body has not touched the tomb, and his soul is still searching for its way…The same rites are restarted.

The festivity amplifies. The dead is put out of the house in a coffin that must not touch the ground, being carried on a hearse resembling a Toraja house. He is carried through the fields and rice paddies, in the sounds of the gong, in the vast field of Ma’Palolo. A long line of mourning people follow him. The buffaloes and the other animals to be sacrificed finish the cortege. The coffin is placed among the menhirs, in a previously prepared platform.

Around the sacred field, a village of huts has been built, for hosting the hundreds of guests. Buffaloes and pigs are sacrificed again, and the meat is shared between the guests. At the shadow of the trees, people eat and drink palm wine. Prays are recited. Ma’maraka is sung by vocalists; their words attempt to comfort the family, expressing, at the same time, the support of the community. 

The last ceremony
It takes place in the day called “towards the tomb”. The dead will leave the field of menhirs. The coffin, located on the hearse, is carried on the shoulders of the men. After years of wandering, this is the last journey. The procession, accompanied by singing, reaches the funerary promenade. It is a large calcareous rock, in which liangs, the sepulchers of the families, are carved. A large ladder made of a tall bamboo stem with notches, will allow the ascend of the coffin to the liang. It is a difficult action, which requires skill and maxim effort. People go home. 30 days later, the relatives renounce to the mourning clothes. The soul of the dead has reached the kingdom of the spirits, watching for the wellbeing of the relatives and friends. 

The funerary promenade
The entrance into the liang is covered by a richly decorated wooden plate. Under the window of the liang, a horned buffalo head is figured. Amongst the liangs, there are lodges hosting Tau-tau nangka (”small characters”), effigy dummies, representations of the dead, made of the wood of the breadfruit tree (Artocarpus) and dressed in fabrics. They lean carelessly on the wood bar keeping them prisoners in the narrow space of their balconies. The dummies differ in facial expressions, clothing and size; the clothes are bleached by sun and rain. Some wear cigarettes in their mouths or imitate life postures, like tiredness. Men wear a type of turban or hats, whiter shirts, and over the shirt, a jacket or tog. On the right shoulder, there is a sarong. The lower body is covered by trousers or a long skirt. The necks are adorned with traditional collars or talismans made of pig teeth.

Women wear a black fabric around their heads and simple blouses. Tau-tau nangka are sought today by many museums and collectors, and because of the massive thefts, many Toraja hid their dummies in caves or guard the lodges, which are closed with lattices, shutters and latches and only shown to group of tourists.

A different type of tombs
Other tombs are located in natural grottoes, at tens of meters from their entrance, where the fabric rolls with the decomposed bodies pile. Some grottoes host huge coffins called erongs. They are the oldest necropolises in Tana Toraja. Erongs were cut in huge tree trunks and were box shaped with a lid, having the look of a boat and remembering the roofs of the Toraja houses. The surface was carefully polished and decorated. A braid of curb lines was separated from space to space by lozenges or squares. The same motifs are today found on the Toraja houses. The tradition of the erongs is today long forgotten.

Membaca Kaba Puteri Bunga Karang Lewat Puisi

Rusli Marzuki Saria (kelahiran Kamang, Bukittinggi, 26 Pebruari 1936), termasuk salah seorang penyair Indonesia yang menulis puisi bertolak dari nilai-nilai sub-kultur daerahnya. Lewat puisi, Rusli berusaha mengucapkan dirinya sebagai warga sub-kultur Minangkabau, di mana “kaba” merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang terkenal di daerahnya. Beberapa puisi Rusli memperlihatkan pengaruh yang kuat kepada kaba Minangkabau itu. Ia telah melahirkan puisi yang berolak dari cerita kaba itu sendiri.

Puisi berjudul “Puteri Bunga Karang”, misalnya, memperlihatkan usaha Rusli untuk mengungkapkan (kembali) permasalahan yang terdapat di dalam kaba “Bunga Karang”. Dalam hal ini, kritikus Mursal Esten (1981) mengatakan, “Puisi Rusli berjudul “Puteri Bunga Karang” itu memang lebih baik dari puisi-puisinya yang lain, karena permasalahan yang ada dalam kaba “Bunga Karang” dihayatinya dengan baik, sebagai warga dari sub-kultur Minangkabau. Dia merasakan di dalamnya. Di dalam permasalahan yang diungkapkan puisi itu.” -Dasril Ahmad, dalam “Puteri Bunga Karang” Rusli Marzuki Saria: Puisi yang Bertolak dari Akar Tradisi.

Nah, untuk lebih jelasnya, ini dia puisi Rusli Marzuki Saria yang berjudul Puteri Bunga Karang;

Puteri Bunga Karang

1
Awan merendah. Angin berpusar-pusar
Puteri Bunga Melur keluar dari muara Muar
Sebuah lancing kecil
Kisah ini dirawikan lewat kaba

Kuserahkan diriku pada gelombang dan pasang
Laut bernyanyi. Camar melayang-layang
Antara batang Muar dan pulau Pagai
Dimana engkau kekasihku: Nahkoda Muda

Bandar Muar. Kapal-kapal bersandar
Alangkah ramainya
Puteri Bunga Melur hilang dalam kelambu

Inang dan dayang-dayang istana
Berlari ke ruang tepi. Yang tinggal hanya
Enam puadai kencana

2
Malam turun di istana bandar Muar
Anak raja Bugis itu duduk sendiri. Bagai
burung kehilangan pasangannya
Desah laut, kilat cahaya

Puteri Bunga Melur yang rait
di balik kabut malam bandar Muar
Tercoreng malu anak raja Bugis
sang puteri menghilang tanpa berita

Sumpah telah mendera buat bersetia
Janji mengikuti kekasih masing-masing
dan meninggalkan negeri ini

Apakah yang lebih sakti daripada sumpah:
tenggelam ke dasar laut
daripada menyerah kepada nasib?

3
“Dari Tiku ke Kuraitaji
Anak payang membeli limas
Biarlah aku mungkir janji
Karena loyang gantinya emas…”

Puteri Bunga Melur juga yang terisak
Tentang janji, sumpah dan setia
Sebab ikrar itu sudah terucapkan
“…biar bersama-sama membuang diri ke laut lepas”

Bandar Muar seharian penuh sesak
Perahu, pencalang, sekunar, jukung dan tongkang
Lancang dan sampan bagai ikan badar terlantar

“Mengapa aku kakak katakan edan?”
Barangkali nasib tersirat diam-diam
Dari kesunyian masing-masing

4
Gelombang menari-nari di sini
menjilat lidah pasir
Di mulut muara
batang Muar

Pasang naik, matahari pun naik
Puteri Bunga Melur ingat kekasih
Nahkoda Muda-Sutan Kinali
Tunangan tak resmi mekar dalam hati

Jodoh dalam batin
dibawa retak tangan
Teguh dalam janji
sangsai dalam penderitaan

5
Puteri Bunga Melur yang sendiri
dalam lancang
Ditelan lautan
di hari-hari pelarian

Nahkoda Muda terlintas-lintas di mata
bergayut di pucuk buih
Di laut pagai
dan arus amat kencangnya

Telah kutulis nasibku
di atas daun sirih
Dengan kapur gunung sebatang
dari hari pertama

Begitu sunyinya nasib
dalam igau
Purnama marak
bersembunyi di balik kabut

6
Kuminta angin berembus
dan badai reda
Lancang kecil
di atas samudera

Kuminta bintang-bintang
menuntun lancangku
Di malam begini hitam
petir menghantam

Nahkoda-
Nahkodaku
Kekasihku
Tunanganku

Lihatlah laut pasang
Dengarlah gelombang mengerang
Di mana engkau nahkodaku
Kucari kau ke sini - di pulau Pagai!

7
Puteri Tunggal nan Jombang sang ibunda
Terisak-tersedu
Karena sang puteri lari
tinggalkan calon suaminya

Puteri Tunggal nan Jombang
tak dapat dirawikan
Kemarahannya
dan malunya

Didamiknya dadanya
dibantun-bantunnya
rambut di kepala
dengan sangat garangnya

Lengkisau hari-harinya
datang berpusaran
Api di telapak tangan
tenggelam dengan erat

8
Bulan tersipu di atas laut
Ketika ombak berderai
Dan angin tenang
Tanpa pasang

Nyanyian masalampau
rabuk masadepan
bersatu di sini
di atas karang

Puteri Bungsu bercinta
dengan laut
Ketika ombak Purus
bernyanyi dan mengeluh

Kau jabat tangan waktu
dengan ragi kasihsayang
Tuak kelapa Pagai
memabukan ku!

9
Telah kau lepas rindu
Puteri Bungsu-
Di balik purnama
mengintai bencana

Di atas peraduan tak ditemukan engkau
Yang tinggal jejak di pasir
Dan wangian sedapmalam
Kembang angsoka

Kau pilih lari malam hari
Bersinar bintang kala
Laut mengeram malam hari

Kau serahkan dirimu pada gelombang
Sebelum badai tiba
Malam gelap gulita

10
Awan bergumpal hitam di atas lautan
Elang laut berkepak. Nasib juga sedang
menunggu Puteri Bungsu
Ketika sumpah itu diucapkan

Puteri Tunggal nan Jombang menyeru:
“Anak kualat, anak celaka….!
Anak yang tak tahu membalas guna…
Memberi malu kepada orang banyak”

“Atas kesusahanku mengandung dan
melahirkannya ke dunia,
ya Allah, kalau ia ada di daratan
diterkam dan diserkah harimau laparlah ia,
jika masuk kuala, ke sungai atau ke lautan
tertumbuk dan terlepaslah lancang
yang dinaikinya ke batu karang…”

Sumpah itu sudah terucapkan
ketika pitam
Sang Bunda Alam

11
Gagak terbang di senja. Kita bercerita
tentang laut mengamuk
Dan kisah cinta yang remuk
Antara Pagai dan bandar Muar

Terlintas sebuah rumah buat haritua
Ketika kau dulu mengimpikannya
Bunga ros yang mekar serta lila
Dalam taman berdua

Tapi nasib tetap juga dalam suratan
tangan. Tergenggam erat di tanganmu
Dan terbengkalai

Di balik musim usia telah jadi
kulit limau berkerinyut. Menanti
lapuk di kemarau panjang

12
Jaringlawa terbentang di siang
Menungu mangsa yang letih di perburuan
yang panjang. Langit biru, awan menyisih
Ringkik kuda ditelan cakrawala

Telah bermusim dukaku di sini
bertahta. Kabut melintas batas
Dan suara itu melolong di malam
panjang sekali

Kusulam asib yang bengis
dalam sunyi sendiri
Kau ajuk lautku biru
di hari-hari kelabu

Buyung! Disini sajalah main dadu
di bawah pohon randu
Silang-sengketa nasib
dalam perjalanan rahib

13
Gelombang memanggil aku
Badai sedang menanti aku
Gelap malam hitam
Menunggu aku!

Kuserahkan jiwa kepadamu
Laut biru dalam
Bersetubuh denganmu
Dalam kelam

Kuingat kecupan yang panas
Badai panas matahari khatulistiwa
Lidah ular berbisa

Airmu menari-nari
Anginmu berpusar-pusar
Awanmu merendah

14
Kutulis riwayatmu
Kueja namamu
Dari hari ke hari
Dari saat ke saat

Kubaca deritamu
lewat gelombang
Kubaca sukacitamu
lewat garistangan

Puteri Bungsu
puteri terakhir
yang lahir

Puteri Bungsu
laut sedang bergelombang
laut bakal pasang

15
Beri aku laut yang menggelegak
dan angin panas melambai
Kubakar diriku di dalamnya
sepuas-puasnya

Beri aku laut yang mendidih
dan badai khatulistiwa
Benamkan aku ke dasar paling dalam
sampai ke keraknya

Dengan seluruh tubuh terbakar
Aku ingin jabat tanganmu
dalam ngigau

Kau itu Ibu Kehidupan
ibu alam pemurah
ibu alam pemarah

16
Haritua bagai rumah di pantai
Bunga-bunga melenggok dan patah rantingnya
Tak ada derik dan angin mati
seketika

Masadepan kayu-kayu hutan berbunga
Burung2 menyanyi. Matahari terbangun
pagi hari. Sipongang berkejaran sepanjang
lembah

Puteri Terakhir sedang berpacu dengan kabut
di luas laut. Menuju Pagai
Menuju sang kekasih

Bagai harimau laut mengaum
Angin berpusar sepanjang malam dan siang
Pagai jauh kekasih jauh

17
Kutolak badai menggila tapi sia-sia
Lancangku kandas, air laut berputar-putar
dibawahnya. Wajah Nahkoda Muda
Sekali-sekali datang. amboi, gagahnya!

Tidak. Tidak, aku ingin berkubur di sini!
Di perut laut mengeram, Pagai terlihat
Jauh sekali. Ibu Alam yang pemarah
Aku ingin mencium kakimu

Tidak. Tidak, aku ingin sampai padanya
Tanah tepi di mana Nahkoda Muda
membuang sauh. Dan kapal-kapal tertambat

Tidak. Tidak, Puteri nan Bungsu
Laut tak bisa kau suruh diam
Sebentar lagi matahari akan tenggelam

18
Senja pekat bagai pukat hitam
Gerimis rait, petir bersabung ke malam
Gelombang tak tertahan oleh empu jari
Lancang Puteri nan Bungsu itu pecah!

Nasib. Retak tangan dan Ibu Alam yang marah
Badai menghempas. Gelombang membelah
Kusandang nasib hitamku sebelum menjelang
Pagai. Laut berderai, amboi!

Aku ingin berumah di sini. Rumah kaca
di mana aku bisa ngintip mambang
dan peri. Atau wajah Nahkoda Muda

Aku ingin berumah di sini. Di mana laut
bernyanyi malam hari. Memanggil-manggil
kekasih nun jauh sekali.

19
Jangan lagi kau kejar, petir malam hari
Lancangku pecah. Dan aku di sini saja di tengah
gerimis. Pendayung patah tiga
Dan urat2ku mulai kaku

Jangan lagi aku kau kejar, petir malam hari
Nanti aku jadi batuhitam, digerayangi
lumut-lumut plankton. Di mana gelombang
pecah di pangkuanku

Aku sekarang gadis remaja yang sedang
bercinta. Bernyanyi malam hari kupetik
kecapi. Dawai2nya, ah dawai2nya!

Aku sekarang gadis remaja yang sedang
mimpi. Berumah di tengah samudera
Mengintip dalam rumah kaca : di mana engkau kekasihku

20
Ibu Alam yang pemarah - langit jadi
hitam. Jerat telah memangsaku untuk
berumah di sini, dalam palung laut ini
Dan kuminta hanya badai serta laut gemuruh

Ibu Alam yang pemarah - aku anakmu,
Puteri Bunga Melur - Puteri nan Bungsu
Puteri Terakhir
yang kau lahirkan

Akulah puterimu yang bercinta! Memendam
Rindu dan kasihsayang. Lari dari rumah
dengan lancang. Ketika pertunanganku
dengan anak raja Bugis itu berlangsung

Kuminta badai, angin, gelombang
memecah ke dadaku
Di tengah samudera antara Pagai-Padang
- Akulah Puteri Bunga Karang!

Ulakkarang,
Padang 1977/1978

CERITA Babad Cirebon Versi Naskah Klayan

Ini adalah cerita Babad Cirebon versi Naskah Klayan. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat..


Pupuh pertama
Dangdanggula, 13 Bait
Pupuh ini diawali oleh kalimat Bismillahi ya rakhman nirakhim. Pupuh ini menceritakan lolosnya Walangsungsang—putra Prabu Siliwangi—yang berkeinginan mencari agama Nabi Muhammad. Walangsungsang –yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran—berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana. Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi (islam)kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati cirebon. Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati, Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Sang Danuwarsi.

Pupuh Kedua
Kinanti, 24 bait
Pupuh ini menceritakan perjalanan Rarasantang –adik Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agama nabi –yang menyusul kakaknya hingga pertemuannya dengan Walangsungsang di Gunung Merapi. Setiap hari, Rarasantang amat bersedih hati ditinggalkan pergi oleh kakaknya. Ia terus menerus menangis. Jerit hatinya tak tertahankan lagi hingga akhirnya ia pun pergi meninggalkan istana Pakuan Pajajaran.

Lalu, Prabu Siliwangi mengutus Patih Arga untuk mencari sang putri. Ia tidak diperkenankan pulang jika tidak berhasil menemukan Rarasantang. Namun, usaha Patih Arga sia-sia belaka karenanya ia tidak berani pulang. Akhirnya, ia mengambil keputusan mengabdi di negeri Tajimalela.

Sementara itu, perjalanan Rarasantang telah sampai ke Gunung Tangkuban-perahu dan bertemu dengan Nyai Ajar Sekati. Rarasantang diberi pakaian sakti oleh Nyai Sekati sehingga ia bisa berjalan dengan cepat. Nyai Sekati memberi petunjuk agar Rarasantang pergi ke gunung Cilawung menemui seorang pertapa. Di gunung Cilawung, oleh ajar Cilawung nama Rarasantang diganti menjadi Nyai Eling dan diramal akan melahirkan seorang anak yang akan menaklukkan seluruh isi bumi dan langit, dikasihi Tuhan, dan menjabat sebagai pimpinan para wali. Selanjutnya, Nyai Eling diberi petunjuk agar meneruskan perjalanan ke Gunung Merapi.

Cerita beralih dengan menceritakan Resi Danuwarsi—yang juga dikenal dengan nama Ajar Sasmita—yang tengah mengajar Walangsungsang. Sang Danuwarsi mengganti nama Walangsungsang menjadi Samadullah dan menghadiahi sebuah cincin bernama Ampal yang berkesaktian dapat dimuati segala macam benda. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba datanglah Rarasantang yang serta merta memeluk kakaknya. Di Gunung Merapi, Walangsungsang dinikahkan dengan putri Danuwarsi yang bernama Indang Geulis. Sesuai dengan petunuk Resi Danuwarsi, Samadullah beserta istri dan adiknya meninggalkan Gunung Merapi menuju bukit Ciangkup. Indang Geulis dan Rarasantang “dimasukkan” ke dalam cincin Ampal.

Pupuh Ketiga
Asmarandana, 16 bait
Di bukit Ciangkup—tempat bertapa seorang pendeta Budha bernama Sanghyang Naga—Samadullah diberi pusaka berupa sebilah golok bernama golok Cabang yang dapat berbicara seperti manusia dan bisa terbang. Setelah mengganti nama Samadullah menjadi Kyai Sangkan, Sanghyang Naga memberi petunjuk agar Samadullah melanjutkan perjalanan ke Gunung Kumbang menemui seorang pertapa yang bergelar Nagagini yang sudah teramat tua.

Nagagini adalah seorang pendeta yang mendapat tugas dewata untuk menjaga beberapa jenis pusaka: kopiah waring, badong bathok (hiasan dada dari tempurung), serta umbul-umbul yang harus diserahkan kepada putera Pajajaran. Atas petunjuk Nagagini, Walangsungsang kemudian berangkat ke Gunung Cangak. Nagagini memberi nama baru bagi Walangsungsang, yakni Karmadullah.

Pupuh Keempat
Megatru,26 bait
Ketika tiba di Gunung Cangak, Walangsungsang melihat pohon kiara yang setiap cabangnya dihinggapi burung bangau. Walangsungsang bermaksud menangkap salah seekor burung bangau itu, tetapi khawatir semuanya akan terbang jauh. Ia teringat akan pusakanya kopiah waring yang khasiatnya menyebabkan ia tidak akan terlihat oleh siapapun termasuk jin dan setan. Kopiah Waring segera ia pakai, lalu ia mengambil sebatang bambu untuk membuat bubu yang dipasang disalah satu cabang kiara. Dalam bubu itu diletakkan seekor ikan. Burung-burung bangau tertarik melihat ikan dalam bubu hingga membuat suara berisik dan menarik perhatian raja bangau (Sanghyang Bango) yang segera mendekati “rakyatnya”.

Raja Bango berusaha mengambil ikan dalam bubu, namun ia terjebak masuk ke dalam perangkap dan tak dapat keluar, dan akhirnya ditangkap oleh Walangsungsang. Raja Bango mengajukan permohonan agar tidak disembelih, dan ia menyatakan takluk kepada Walangsunsang serta mengundangnya untuk singgah di istananya guna diberi pusaka. Di dalam istana, Raja Bango berubah menjadi seorang pemuda tampan dan menyerahkan benda pusaka berupa: periuk besi, piring, serta bareng. Periuk besi dapat dimintai nasi beserta lauk pauknya dalam jumlah yang tidak terbatas, piring dapat mengeluarkan nasi kebuli, sedangkan bareng dapat mengeluarkan 100.000 bala tentara. Sanghyang Bango memberi nama Raden Kuncung kepada Walangsungsang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Jati.

Pupuh kelima
Balakbak, 16 bait
Setibanya di gunung Jati, Walangsungsang menghadap Syekh Nurjati yang juga bernama Syekh Datuk Kafi yang berasal dari Mekah, dan masih keturunan Nabi Muhammad dari Jenal Ngabidin.

Lalu, Walangsungsang berguru kepada Syekh Nurjati dan menjadi seorang muslim dengan mengucapkan syahadat. Setelah ilmunya dianggap cukup, Syekh Datuk Kafi menyuruh Walangsungsang untuk mendirikan perkampungan di tepi pantai. Walangsungsang memenuhi perintah gurunya. Ia pun berangkat menuju Kebon Pesisir, berikut istri dan adiknya, yang di “masukkan” ke dalam cincin Ampal. Perkampungan baru yang akan dibukanya kelak dikenal dengan nama Kebon Pesisir, sedangkan pesantrennya diberi nama Panjunan. Dalam pada itu, Syekh Datuk Kafi memberi gelar kepada Walngsungsang dengan sebutan Ki Cakrabumi.

Pupuh keenam
Menggalang, 13 bait
Selanjutnya, Cakrabumi membuka hutan dengan Golok Cabang. Dengan kesaktian Golok Cabang, hutan lebat telah dibabat dalam waktu singkat. Ketika goloknya bekerja membabat hutan, ohon-pohonan roboh dengan mudah, lalu golok mengeluarkan api dan membakar kayu-kayu hutan sehingga dalam waktu singkat pekerjaan sudah selesai; sementara Walangsungsang tidur mendengkur. Hutan yang dirambah cukup luas sehingga pendatang-pendatang baru tidak perlu bersusah payah membuka hutan. Dalam waktu singkat, pedukuhan baru itu sudah banyak penduduknya, dan mereka menamakan Cakrabuwana dengan sebutan Kuwu Sangkan.

Kuwu Sangkan sendiri tidak bertani karena pekerjaannya hanyalah menjala ikan dan membuat terasi. Jemuran terasi yang dibuatnya membentang ke selatan hingga Gunung Cangak di tanah Girang. Suatu ketika, ia pulang ke rumahnya yang terletak di Kanoman, ternyata gurunya, Syekh Datuk Kahfi telah berada disana.

Pupuh ketujuh
Sinom, 24 bait
Ketika Syekh Datuk Kahfi menemui Walangsungsang di Kebon Pesisir, ia menganjurkan supaya Walangsungsang dan adiknya menunaikan ibadah haji ke Mekah. Walangsungsang mematuhinya. Ia pun berangkat menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Rarasantang. Syekh Datuk Kahfi menitipkan sepucuk surat untuk sahabatnya, Syekh Bayan dan disarankan agar Walangsungsan beserta adiknya tinggal di rumah Syekh Bayan selama di Mekah.

Cerita beralih kepada kisah Raja Uttara, seorang raja Bani Israil yang baru ditinggal mati oleh istrinya. Ia menyuruh patihnya agar mencari seorang wanita yang parasnya serupa benar dengan almarhumah permaisurinya.

Patih Raja Uttara mengembara ke neger Rum, Bustam, Syam, Turki, dan Mesir, namun belum juga menemukan wanita yang diinginkan rajanya. Akhirnya, ia pergi ke Mekah pada saat musim haji. Ia melihat tiga orang berjalan beriring-iringan. Mereka adalah Syekh Bayan, Walangsungsang, dan Rarasantang. Sang Patih mengikuti mereka sampai ke rumahnya. Menurut penglihatannya, Rarasantang mirip sekali dengan almarhumah permaisuri Mesir.

Patih Raja Uttara meminta Rarasantang utuk menjadi istri Raja Uttara di Bani Israil. Ternyata, ia bersedia menjadi istri raja Uttara dengan mas kawin sebuah sorban peningglan Nabi Muhammad SAW.

Pupuh kedelapan
Asmarandana, 13 bait
Ketika Rarasantang tengah hamil tujuh bulan, ia ditinggalkan suaminya yang bermaksud mengunjungi negeri Rum menengok pamannya, Raja Yutta. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, baru satu hari Raja Uttara berada di Rum, ia terserang penyakit kolera dan tak tertolong lagi. Raja Uttara sudah pulang ke rahmatullah. Utusan segera dikirim ke Mesir untuk memberi kabar Raja Uttara telah meninggal di rum.

Pupuh kesembilan
Sinom, 15 bait
Pupuh ini menceritakan kesedihan Rarasantang yang ditinggal mati oleh suaminya, serta kisah kembalinya Walangsungsang ke tanah Jawa. Kesedihan Rarasantang yang sedang hamil tua itu tak terbayangkan lagi mendengar kematian suaminya, apalagi masa kehamilannya telah mencapai usia 12 bulan.

Sementara itu, di Mekah, Syekh Bayan dan Walangsunsang tengah bercakap-cakap tentang rencana kembalinya ke tanah Jawa. Dalam perbincangan itu, Syekh Bayan berkeinginan untuk turut serta ke pulau Jawa. Walangsungsang yang telah berganti nama menjadi Abdul Iman meminta agar Syekh Bayan bersabar dahulu karena Abdul Iman ingin berkelana mengelilingi daerah Mekah hingga ke desa-desa. Tetapi, ternyata pengembaraan Walangsungsang telah sampai ke Aceh yang saat itu sedang terserang wabah penyakit. Permaisuri aceh meninggal karena terserang wabah penyakit. Ia meninggakan seorang anak perempuan yang belum diberi nama. Demikian pula Sultan Aceh—yang bernama sultan Kut—saat itu juga sedang sakit parah. Syekh Abdul Iman berhasil menyembuhkan Sultan Aceh dan putrinya. Putri Aceh yang masih kecil kemudian diambilnya menjadi anak angkatnya dan dimasukkan ke dalam cincin Ampal.

Syekh bayan yang menunggu Abdul Iman di Mekah hampir tiga bulan ternyata belum kembali juga. Ia segera mempersiapkan perahu dan berangkat sendiri dari pelabuhan Julda ( Jeddah ) menuju Cirebon.

Pupuh kesepuluh
Maskumambang, 13 bait
Dengan mengucap bismillah, Syekh Bayan memulai pelayarannya meninggalkan Mekah menuju Cirebon. Sementara itu, Abdul Iman yang kembali ke Mekah setelah melakukan pengembaraan merasa ditipu oleh Syekh Bayan. Dengan kesaktiannya, Abdul Iman segera melesat ke Pulau Jawa. Ia menantikan kedatangan Syekh Bayan di tepi pantai dengan menyamar sebagai pencari ikan.

Syekh Bayan tiba di Cirebon, ia disambut oleh seorang pencari ikan. Ia bertanya kepada pencari ikan itu di manakah ia bisa menjumpai syekh Datuk Kahfi. Syekh Abdul Iman yang menyamar sebagai pencari ikan tidak menjawab pertanyaan syekh Bayan, melainkan ia menjelaskan bahwa jika Syekh Bayan ingin menjadi orang yang mulia dan menjadi wali, tunggulah syekh Datuk Kahfi di Gunung Gajah.

Pupuh kesebelas
Dangdanggula, 12 bait
Abdul Iman melanjutkan perjalanannya mengembara sebagai pencari ikan, sementara Syekh Bayan pergi ke Gunung Gajah. Di tengah perjalanan, Abdul Iman teringat kepada gurunya, lalu ia kembali ke Panjunan untuk menemui gurunya, juga istrinya. Akan tetapi, ternyata gurunya tidak ada, dan yang ada hanyalah sepucuk surat yang ditinggalkan syekh Datuk Kahfi. Isi surat itu : jika ingin bertemu dengannya, hendaklah menyusul ke Pandanjalmi.

Ketika ia hendak pergi lagi mengembara, ia menyerahkan sebuah peti kepada istrinya dengan pesan : “Kelak, jika datang seorang pemuda dari Mekah, dan tinggal di Gunung Jati, serahkanlah peti itu kepadanya. Jika anak yang dalam kandunganmu lahir perempuan, berilah nama Pakungwati. Jika yang lahir laki-laki terserah. Ibu dan anak hendaklah berguru kepada pemuda yang berasal dari Mekah itu”.

Abdul Iman pergi ke Pandanjalmi dan bertapa di Sendang, dan menamakan dirinya Ki Gede Selapandan. Ia bertani sambil mengasuh anak angkatnya yang bernama Nyi Wanasaba. Ketika ia pindah ke Lebaksungsang, anaknya berganti nama menjadi Nyi Gandasari dan ketika dukuhnya semakin besar, ia namakan desa Panguragan. Ia percayakan desa itu kepada anaknya, Ratu Emas Gandasari, yang juga terkenal dengan nama Nyi Gede Panguragan.

Cerita beralih pada kisah kelahiran Syarif Hidayat. Tersebutlah Rarasantang di Mesir. Ia melahirkan bayi kembar laki-laki: anak pertama diberi nama Syarif Hidayat, sedangkan anak kedua syarif (Ng)aripin. Ketika mereka sudah berumur 14 tahun, mereka rajin mempelajari ilmu agama. Lebih-lebih Syarif Hidayat, segala macam kitab agama ia baca hingga akhirnya ia membaca sebuah kitab rahasia yang tertulis dengan tinta emas.

Pupuh keduabelas
Sinom, 21 bait
Setelah membaca kitab rahasia yang menjelaskan bahwa lamun sira arep luwi, gegurua ing Mukhamad( jika ingin menjdi manusia istimewa bergurulah kepada Muhammad ), Syarif Hidayat merasa setengah tidak percaya terhadap amanat yang tertera dalam buku itu. Namun, dalam setiap tidurnya, ia selalu bermimpi melihat cahaya yang mengeluarkan suara: e Syarif Hidayat iki, rungunen satutur isun, lamon sira arep mulya, nimbangi keramat Nabi, ulatana sira guguru Mukhamad ( Hai Syarif Hidayat dengarkanlah petunjukku, jika engkau ingin menjadi manusia mulia sehingga dapat mengimbangi keramat nabi, carilah dan bergurulah kepada Muhammad ). Dalam hatinya, ia merasa pedih mengenang nasibnya yang tidak berayah sehingga tidak ada yang dapat menuntun mengkaji ilmu. Meskipun demikian, hatinya teguh hendak menuruti petunjuk kitab dan panggilan mimpi. Ia memohon diri kepada ibunya dan sudah tak dapat dicegah lagi kemauannya. Ia tidak tertarik pada kedudukan sebagai raja.

Syarif Hidayat mulai mengembara mencari Nabi Muhammad. Ia berziarah ke patilasan Nabi Musa dan Nabi Ibrahim di Mekah, tetapi belum juga memperoleh petunjuk. Lalu, ia shalat hajat dua rakaat, memuji Tuhan, membaca shalawat nabi, dan mengucapkan taubat. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke gunung Jambini. Di sana, ia bertemu dengan Naga Pratala yang menderita sakit bengkak. Sang Naga minta diobati, dan Syarif Hidayat hanya menjawab : yen lamon isun pinanggi, pasti waras puli kadi du ing kuna ( jika aku benar-benar dapat bertemu dengan Nabi Muhammad pastilah engkau sembuh ). Seketika Naga Pratala menjadi sembuh. Kemudian, ia memberikan sebuah cincin pusaka bernama Marembut yang berkhasiat dapat melihat segala isi bumi dan langit. Oleh Naga Pratala, Syarif Hidayat dianjurkan agar pergi ke pulau Majeti ( Mardada ) menemui pertapa di sana.

Pulau Mardada dihuni oleh binatang buas dan berbisa yang sedang menjaga sebuah keranda biduri. Di sebuah cabang kay yang tinggi, Syarif Hidayat melihat ada seorang pemuda bernama Syekh Nataullah sedang bertapa. Pemuda itu menjelaskan bahwa tidak ada harapan untuk menemui orang yang sudah tiada, lebih baik berusaha mendapatkan cincin Mulikat yang berada di tangan Nabi Sulaiman. Ia menjelaskan bahwa barang siapa memiliki cincin Mulikat, ia akan menguasai seisi langit dan bumi, serta dihormati oleh umat manusia. Syarif Hidayat kemudian mengajak Syekh Nataullah bersama-sama mengambil cincin tersebut.

Pupuh ketigabelas
Kinanti, 30 bait
Ketika Syarif Hidayat berada di makam Nabi Sulaeman, jenazah Nabi Sulaeman seolah-olah hidup dan memberikan cincin Mulikat kepadanya. Syekh Nataullah mencoba merebut cincin tersebut, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba meledaklah petir dari mulut Nabi Sulaeman sehingga yang sedang mengadu tenaga memperebutkan cincin tersebut terlempar. Syekh Nataullah melesat jatuh di pulau jawa, sedangkan Syarif Hidayat jatuh di Pulau Surandil.

Cerita dalam pupuh ini diselingi oleh kisah Rarasantang yang merindukan Syarif Hidayat. Sudah sepuluh tahun Rarasantang ditinggal putranya. Ia selalu berdoa agar anaknya mendapat lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tiba-tiba, ia mendengar suara, ujarnya : wondening anakira iku, waruju kang dadi aji, Banisrail kratonira, nama Sultan Dul Sapingi, mung kang dadi lara brangta, amung putranipun Syarip, lamon eman maring siwi, balik angungsiyang Jawa, lamon arep ya pinanggi ( Anakmu yang muda itu akan menjadi raja, keratonnya di Baniisrail, bergelar Abdul Sapingi. Jika engkau benar-benar merindukan anakmu Syarip Hidayat, sebaiknya kembalilah engkau ke Pulau Jawa.) Akhirnya, Rarasantang kembali ke Pulau Jawa menantikan anaknya di Gunung Jati menuruti pesan Syekh Datuk Kahfi.

Cerita kembali ke Syarif Hidayat yang jatuh di Gunung Surandil. Di sana, ia melihat sebuah kendi berisi air sorga yang sangat harum baunya. Kendi itu mempersilahkan Syarif Hidayat meminumnya. Karena ia hanya menghabiskan setengahnya, kendi itu meramalkan bahwa kesultanan yang kelak akan didirikan olehnya tidak akan langgeng. Meskipun kemudian air kendi itu dihabiskan, namun yang langgeng hanyalah negaranya, bukan raja-rajanya. Setelah berkata demikian, kendi itu pun lenyap.

Syarif Hidayat kemudian bertemu dengan Syekh Kamarullah. Atas anjurannya, Syekh Kamarullah pergi ke Jawa dan menetap di gunung Muriya dengan gelar Syekh Ampeldenta. Dengan demikan, sudah empat orang syekh dari Mekah yang tiba di tanah Jawa.

Pupuh keempatbelas
Sinom, 28 bait
Suatu ketika, Nabi Aliyas ( Ilyas ) menyamar sebagai seorang wanita pembawa roti. Ia menawarkan kepada Syarif Hidayat bahwa rotinya adalah roti sorga, dan barang siapa yang memakan roti itu, ia akan mengerti berbagai macam bahasa Arab, Kures, Asi, Pancingan, Inggris, dan Turki. Nabi Aliyas juga memberi petunjuk bahwa jika hendak mencari Muhammad ikutilah seseorang yang menunggang kuda di angkasa, dialah Nabi Khidir yang dapat memberi petunjuk. Wanita pemberi petunjuk itu hilang seketika dan tiba-tiba di angkasa tampak seorang penunggang kuda. Syarif Hidayat melesat ke angkasa lalu membonceng di ekor kuda. Nabi Khidir—penunggang kuda—menyentakkan kudanya hingga Syarif Hidayat terpelanting dan jatuh di negeri Ajrak di hadapan Abdul Sapari.

Abdul Sapari memberinya dua butir buah kalam muksan; sebuah dimakan habis oleh Syarif Hidayat dan terasa manis sekali, sementara sebuah lagi disimpan untuk lain waktu. Abdul Sapari menyatakan bahwa tindakan itu menjadi pertanda bahwa kelak akan timbul tantangan-tantangan di saat Syarif Hidayat menjadi sulltan. Tidak demikian halnya jika dua buah itu dihabiskan sekaligus. Akhirnya, buah Kalam Muksan yang sebuah lagi segera dimakan, namun rasanya sangat pahit dan sangat menyakitkan seperti sakitnya orang menghadapi sakratul maut. Ia pingsan seketika. Abdul Sapari segera memanggil patih Sadasatir untuk memasukkan Syarif Hidayat ke bubungan mesjid. Dari situ, Syarif Hidayat mikraj ke langit. Dalam perjalanan mikraj, pertama kali ia sampai di pintu dunia dan melihat orang-orang yang mati sabil serta mukmin yang alim dan kuat beribadat. Di langit kedua, ia bertemu dengan roh-roh wanita yang setia dan patuh pada suami. Di langit ketiga, ia bertemu dengan Nabi Isa yang menghadiahkan nama Syarif Amanatunggal. Di langit keempat, ia bertemu dengan ribuan malaikat yang dipimpin oleh Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Para pemimpin malaikat juga memberinya nama, antara lain, Malaikat Jibril memberi nama Syekh Jabar, Mikail memberi nama Syekh Surya, Israfil memberi nama Syekh Sekar, dan Izrail memberinya nama Syekh Garda Pangisepsari. Di langit kelima, ia bertemu dengan ribuan nabi, antara lain, Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa. Mereka juga menghadiahi nama baru bagi Syarif Hidayat. Nabi Adam memberi nama Syekh Kamil, Nabi Ibrahim memberi nama Saripulla, dan Nabi Musa memberi nama Syekh Marut. Selanjutnya, Syarif Hidayat melihat neraka, dinding jalal, dan meniti sirotol mustakim. Akhirnya, ia tiba di langit ketujuh dan melihat cahaya terang benderang.

Pupuh kelimabelas
Kinanti, 26 bait
Di langit ketujuh Syarif Hidayat “bertemu” dengan Nabi Muhammad yang sedang tafakur. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa ia sudah meninggal. Karena itu, ia tidak boleh mengajar umat manusia. Apalagi karena di dunia sudah ada wakilnya, yakni para fakir, haji, kitab Al qur’an, puji-pujian, dan segala macam ilmu telah lengkap di dunia. Akan tetapi, Syarif Hidayat berkeras tak mau berguru pada aksara. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Nabi Muhammad, terutama tentang makna asasi kalimat syahadat dan perbedaannya dengan zikir satari. Nabi Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Syarif Hidayat dan menganugerahkan jubah akbar. Syarif Hidayat diperintahkan agar pergi ke tanah Jawa, dan berguru kepada Syekh Nurjati di Gunung Jati, serta tetap memelihara dan menjaga syareat.

Syarif Hidayat lalu turun dari langit ketujuh ke puncak Mesjid Sungsang di Ajrak dan kembali ke Gunung Jati. Di sana, ia bertemu dengan bundanya yang sudah menjadi pertapa wanita bernama Babu Dampul, sedangkan Syekh Nurjati telah pindah ke gua Dalam.

Pupuh keenambelas
Sinom, 27 bait
Syekh Nurjati berusaha menghindari pertemuan dengan Syarif Hidayat. Ketika tamunya datang, ia meninggalkan sepucuk surat dan meminta agar Syarif Hidayat menyusul ke Gunung Gundul. Ia segera menyusul ke Gunung Gundul, tetapi Syekh Nurjati pergi ke Gunung Jati. Akhirnya, atas petunjuk cincin Marembut, ia mencegatnya di tengah jalan. Keduanya mendiskusikan ilmu agama. Syekh Nurjati memberi nama syarif Hidayat denga nama Pangeran Carbon, dan kelak jika sudah menjadi sultan bergelar Sultan Jatipurba.

Selesai mengutarakan pesan-pesannya, Syekh Nurjati lenyap dan tidak pernah muncul lagi sebagai Syekh Nurjati melainkan sudah bernama Pangeran Panjunan atau Syekh Siti Jenar, dan bergelar Sunan Sasmita. Dengan perantaraan cincin Marembut, Syarif Hidayat melihat ke mana sebenarnya kepergian Syekh Nurjati. Kemudian, ia menjumpai ibunya di Gunung Jati, dan pergi ke Gunung Muria hendak menemui Syekh Kamarullah yang bergelar Syekh Ampeldenta.

Saat itu, Syekh Kamarullah sedang memberi wejangan kepada murid-muridnya agar dengan sungguh-sungguh mencari arti dan makna kalimah syahadat. Pangeran Kendal disuruh bertapa membisu, Pangeran Makdum disuruh tidur di tepi pantai, dan Pangeran Kajoran harus bertapa menentang matahari. Setelah murid-muridnya pergi, datanglah Syarif Hidayat. Lalu, keduanya mendiskusikan ilmu agama. Atas anjuran Syekh Ampeldenta, pergilah Syarif Hidayat ke Gunung Gajah menemui Syekh Bayanullah yang berasal dari Mekah.

Pupuh ketujuhbelas
Amarandana, 48 bait
Di Gunung Gajah, Syekh Bayanullah ternyata telah berganti nama menjadi Pajarakan. Tetapi, saat ia menanam jagung, namanya menjadi Syekh Jagung atau Syekh Majagung, atau Ki Dares jika sedang enau. Suatu ketika, Ki Dares tengah bersenandung seraya memahat enau, datanglah Syarif Hidayat. Ki Dares kagum melihat keampuhan kalimah syahadat yang diucapkan oleh Syarif Hidayat yang dapat merontokkan buah pinang dan mengubahnya menjadi emas, dan ia berkeinginan untuk berguru kepadanya. Syarif Hidayat melanjutkan perjalanannya ke Nusakambangan untuk menemui Syekh Nataullaah yang telah bergelar Syekh Damarmaya yang mengamalkan ilmu makdum sarpin; siang malam terus menerus mandi dan tak pernah tidur seolah-olah airlah yang menjadi tumpuan harapan. Syarif Hidayat tiba di sana lalu membaca syadat serta merta air sungai tempat mandi Syekh Nataullah lenyap. Syarif Hidayat menyarankan kepada Syekh Damarmaya apabila ingin mengetahui makna syahadat datanglah ke Cirebon, kelak di waktu para wali berkumpul.

Lalu, Syarif Hidayat melanjutkan perjalanannya menemui Pangeran Kendal yang sedang bertapa membisu—siang malam berjalan sepanjang jalan tanpa berkata-kata. Seperti halnya ketika bertemu Syekh Damarmaya, Syarif Hidayat menjelaskan sekelumit ilmu kepada Pangeran Kendal dan menganjurkan supaya pergi ke Cirebon. Giliran selanjutnya mendatangi Pangeran Makdum yang sedang bertapa denga tidur di pantai serta pergi ke Madura menemui Pangeran Kajoran yang sedang bertapa dengan menentang matahari. Semua pertapa yang ditemuinya diundang ke Cirebon. Sebelumnya mereka menemui Syekh Ampel di Gunung Muria.

Cerita beralih pada kisah seorang raja di negara Atasangin yang masih beragama Budha. Ia telah mengetahui akan kedatangan Syarif Hidayat. Sebelum tamunya datang, ia beserta negaranya menghilang ke dasar laut. Syarif Hidayat kemudian meneruskan perjalanan dan bertemu dengan putra mahkota Keling sedang melarung jenazah ayahandanya. Atas anjurannya, jenazah Raja Keling kemudian dimandikan dan dikubur. Sesudah itu, ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Mesir.

Pupuh kedelapanbelas
Dangdanggula, 25 bait
Ketika Syarif Hidayat tiba di Mesir, ia diminta oleh adiknya, Syarif Arifin, untuk memangku jabatan sebagai Raja Mesir. Tetapi, ia tidak mau menjadi raja. Ia tetap memilih sebagai ulama. Ia hanya meminta kepada adiknya seorang kemenakannya yang bernama Pulunggana untuk diajak berkelana. Dari Mesir, Syarif Hidayat pergi ke Rum mengunjungi pamannya, Raja Yutta, lalu ke negeri Cina dan mengabdikan dirinya pada raja Cina.

Raja Cina mempunyai seorang putri yang teramat cantik bernama Ratna Gandum yang jath cinta kepada Syarif Hidayat. Ketika Syarif Hidayat hendak pulang ke Pulau Jawa, Ratna Gandum berniat mengikutinya, tetapi dilarang oleh orang tuanya. Meskipun demikian, ia memaksa dan akhirnya melarikan diri mengikuti Syarif Hidayat. Keduanya selamat sampai di Pulau Jawa dan menetap di Gunung Jati. Sejak saat itu, Gunng Jati semakin ramai sebagai pusat agama islam.

Tersebutlah Nyi Indang Geulis di Kebon Pesisir. Ia memiliki seorang anak perempuan bernama Pakungwati yang sudah menginjak remaja dan teramat cantik. Berita tentang wali yang berasal dari Mekah yang bermukim di Gunung Jati mengingatkan Indang Geulis akan pesan suaminya. Ia segera bersiap-siap pegi ke Gunung Jati beserta anaknya. Tak lupa pula, ia membawa kendaga yang ditinggalkan suaminya.

Sebelum Nyi Indang Geulis tiba di Gunung jati, terlebih dahulu telah datang tamu dari Gunung Muria, yakni Syekh Ampeldenta beserta murid-muridnya. Tujuan utamanya adalah membicarakan penyerangan terhadap negara Majapahit yang masih beragama Budha. Semuanya sepakat dengan rencana itu. Menyusul kemudian Nyi Indang Geulis bersama Nyi Pakungwati. Ia menyerahkan kendaga kepada Syarif Hidayat yang ternyata isinya sorban dan surat dari uaknya, Walangsungsang. Akhirnya, Syarif Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara ( kota) Cirebon yang dimulai dengan pembangunan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama istana Pakungwati.

Pupuh Kesembilanbelas
Asmarandana, 18 bait
Pupuh ini menceritakan kisah Sunan Kalijaga sebagai kisah selingan dalam cerita Sunan Gunung Jati. Sunan Kalijaga adalah anak Dipati Tuban, Suryadiwangsa. Ia adalah anak tunggal yang telah menjadi yatim piatu sejak menjelang masa akil-baligh. Nama kecilnya adalah Nurkamal. Ia bercita-cita ingin menjadi manusia yang terpuji dan mulia. Setiap hari, ia membagi-bagikan sedekah kepada para menteri dan seluruh rakyatnya. Sedekahnya dibagikan tanpa pilih bulu, penjudi, pemadat, pemabuk, da para pelaku perbuatan maksiat, semuanya boleh ikut menghabiskan hartanya.

Suatu ketika, uang dan hartanya sudah habis ketika Nurkamal harus menyelenggarakan selamatan 1.000 hari kematian orang tuanya. Ia memanggil Patih Sutiman dengan maksud menggadaikan negeri Tuban kepada Patih Sutiman seharga 2.000 dinar. Akhirnya, negara dan rumah Kadipaten sudah digadaikan. Itu berarti, ia sudah tidak mempunyai rumah lagi, dan ia berniat untuk bersedekah di pasar. Di pintu gerbang, Nurkamal bertemu dengan kakek-kakek yang mempunyai dongeng berharg yang dapat menuntun manusia menuju kemuliaan. Nurkamal bingung sejenak; jika dongeng dibeli, ia urung sedekah. Jika bersedekah, ia akan kehilangan jalan kemuliaan. Akhirnya, ia memilih jalan kemuliaan. Nurkamal menyetujui untuk membeli dongeng si Kakek seharga 2.000 dinar. Mulailah si Kakek mendongeng yang berintikan empat hal : Pertama, jangan suka membuka rahasia orang lain; kedua, jangan menolak rezeki; ketiga, jika mengantuk jangan lekas-lekas tidur; dan keempat, jika mendapat istri yang cantik jangan tergesa-gesa menidurinya. Si Kakek juga memberi sebuah baju tambal yang bernama si Gundhil yang berkhasiat dapat berjalan dengan cepat di angkasa dan memberi nama Nurkamal dengan sebutan syarif Durakhman. Lalu, Durakhman pergi ke Kerajaan rawan, dan mengabdi pada Adipati Urawan.

Pupuh keduapuluh
Pangkur 26 bait
Adipati Urawan sangat sayang kepada Syarif Durakman.Suatu hari, ia di ajak berburu ke hutan,tetapi senjata Sang Adipati Urawan tertinggal di istana. Durakman di suruh mengambil senjatanya. Ketika ia tiba di kadipaten, ia melihat istri adipati sedang bermesraan dengan Raden Turna, anak Patih Judipati. Durakman segera kembali ke hutan dengan membawa tombak Sang Adipati. Istri adipati yang takut rahasianya terbongkar segera menyusul suaminya ke hutan dengan kereta. Lalu, mengadukan bahwa Durakman telah berlaku tidak senonoh kepada dirinya.

Tanpa pikir panjang, Adipati Urawan menulis sepucuk surat kepada Patih Judipati yang isinya bahwa orang yang membawa surat harus di bunuh. Jika tidak, Patih Judipati sendiri yang di penggal kepalanya. Adipati Urawan menjelaskan pada istrinya –Dewi Srigading–bahwa Durakman akan di bunuh oleh Patih Judipati. Dalam perjalanan, Durakman bertemu dengan Raden Turna. Keduanya berjalan bersama ke kepatihan. Di tengah perjalana, kebetulan ada orang yang melakukan hajatan dan meminta Durakhman untuk mencicipi makanan yng dihidangkan. Durakhman teringat pada dongeng si Kakek bahwa tidak boleh menolak rejeki sehingga ia pun singgah dan ikut berkenduri.

Raden Turna tidak sabar menunggu kenduri sehingga, secara diam-diam, ia mengambil surat untuk ayahnya. Ia tinggalkan Durakhman dan segera menyampaikan surat tersebut kepada ayahnya. Setelah membaca isi surat, terpaksa Patih Judipati menuruti isi surat itu : kepala anaknya segera ia penggal dan Raden Turna meninggal seketika. Tidak lama kemudian, Durakhman tiba di rumah Patih Judipati yang menyatakan diutus sang Adipati untuk mengambil mayat Raden Turna.

Adipati Urawan terkejut melihat kedatangan Durakman yang membawa mayat Turna. Durakman lalu menceritakan pengalamannya membeli dongeng seharga 2.000 dinar. Sang Adipati sadar akan apa yang terjadi, dan memberi petunjuk kepada Durakman supaya mengabdi pada seorang raja perempuan di negeri Diriliwungan.

Pupuh keduapuluh satu
Dangdanggendis, 25 bait
Di negeri Diriliwungan, Durakman tersesat ke puri di belakang istana.Di sana, ia melihat banyak kuburan. Kedatangan Durakman diketahui oleh para penjaga. Lalu ia ditangkap dan dihadapkan pada Ratu Diriliwungan. Ia akan dibebaskan asal bersedia kawin dengan Sang Ratu. Akhirnya, Durakman bersedia menikahinya.

Di malam hari, ketika akan tidur Durakman teringat kembali akan dongeng si Kakek bahwa istri yang cantik jangan segera ditiduri. Karenanya, cumbu rayu istrinya tidak ia hiraukan bahkan ia pura-pura tidur. Ratu Diriliwungan merasa kesal dan sangat lelah sehingga akhirnya tertidur, sementara Durakman hanya duduk termangu.Tiba-itba dari aurat Ratu Diriliwungan keluar seekor kelabang putih menyerang Durakman namun berhasil ditangkap dan dibanting ke lantai. Seketika, kelabang itu berubah wujud menjadi sebilah keris yang dinamakan keris Kalamunyeng–di kemudian hari, keris ini menjadi pusaka raja-raja Jawa. Keesokan harinya, rakyat Diriliwugan berkumpul denga membawa keranda. Ketika ditanya oleh Durakman, mereka menjawab bahwa setiap orang yang menikah dengan Ratu Diriliwungan, keesokan harinya pasti meninggal. Sementara itu, Ratu Diriliwungan bersumpah setia kepada Durakman, dan ia memilih menceburkan diri ke laut yang kemudian dikenal dengan sebutan Ratu Kidul.

Adapun Durakman melanjutkan perjalanan mencari ilmu ke Ampel. Syekh Ampeldenta yang mengetahui bahwa tamunya merupakan calon wali penutup tidak berani menerima sembahnya, bahkan mengajar pun ia tidak berani. Ia hanya memberi petunjuk jalan ke arah kesempurnaan. Durakman dianjurkan supaya menjadi perampok di hutan Japura dengan nama Lokajaya dan membunuh setiap orang yang melewati hutan Japura.

Tersebutlah Ki Paderesan atau Ki Dares di Gunung Gajah hendak pergi ke Cirebon mencari guru agama Islam bersama-sama istrinya, Nyi Mukena. Suami-istri itu berjalan melewati hutan Japura dan bertemu dengan Lokajaya yang segera menghadangnya. Dalam ketakutannya, suami-istri itu tidak putus-putusnya berdoa memohon ampunan Allah sehingga ketika pedang Lokajaya bertubi-tubi menghantamnya ternyata tidak mempan. Akhirnya, Lokajaya memohon ampun kepada Ki Dares dan meminta brguru kepadanya. Oleh Ki Dares, Lokajaya lalu dikubur hidup-hidup dengan tujuan agar tubuh Lokajaya bersih dari segala dosa.

Pada waktu yang hampir bersamaan, di keraton Majapahit, Raja Brawijaya sedang menerima kedatangan dua orang putranya dari Palembang : Raden Patah dan Raden Husen. Raden Husen diangkat menjadi Adipati Terung, sementara Raden Patah dinasehati supaya bersabar dan diharapkan kelak akan menjadi raja.

Pupuh keduapuluh dua
Sinom, 9 bait
Raden Patah merasa sakit hati karena ia tidak diangkat menjadi adipati. Ia pun pergi ke Ampel guna menghadap Syekh Ampeldenta untuk berguru kepadanya.

Dalam pada itu, sudah tiga kali Ampel mencoba menyerang Majapahit, tetapi selalu gagal dan banyak korban berjatuhan dihajar oleh Adipati Terung. Karena itu, Syekh Ampel mencari orang yang berani melawa Adipati Terung. Barangsiapa dapat mengalahkan Majapahit, ia akan diangkat menjadi raja. Raden Patah bersedia memimpin pasukan islam untuk menyerang Majapahit. Ia lalu diangkat menjadi Adipati Bintaro, sekaligus menjadi senopati.

Pupuh keduapuluh tiga
Kinanti, 14 bait
Cerita kembali ke Ki Dares. Setelah beberapa lama, Ki Dares kembali ke hutan Japura untuk menggali Lokajaya. Ternyata, tubuh Lokajaya seperti mati dan beratnya seringan kapas. Sebenarnya , ia sedang’Mikraj’ menemui roh Nabi ( Muhammad). Ia telah mendapat kesempurnaan dan bergelar Sunan Kali. Ketika Sunan Kali telah sadar, Ki Dares menganjurkan agar Sunan Kali mencari Sunan Jati.

Syarif Hidayat yang sudah mengetahui kedatangan Sunan Kali menyongsong kedatangan tamunya dengan menyamar sebagai seorang haji. Lalu, dengan berpura-pura hendak menyampaikan sesuatu kepada Syarif Hidayat, ia menemui Sunan Kali yang di suruhnya menunggu di pintu gerbang istana. Setelah meninggalkan tamunya di pintu gerbang, Syarif Hidayat langsung berangkat ke Pajajaran.

Pupuh keduapuluh empat
Sinom, 14 bait
Pupuh ini menceritakan proses pengislaman keraton Pajajaran oleh Sunan Jati. Dicertakan bahwa Prabu Siliwangi masih bersedih hati karena semua putranya meninggalkan istana, bahkan pati yang ditugasi mencarinya pun tidak kembali ke kerajaan. Berkat kesaktiannya, Prabu Siliwangi mengetahui kedatangan cucunya, Sunan Jati. Dalam hatinya, ia merasa malu kalau sampai tunduk kepada cucunya. Dengan kesaktian pusakanya, sebilah Ecis, ia berjalan ke tengah alun-alun dan membaca mantra aji sikir, lalu pusaka Ecis ditancapkan ke tanah. Seketika, negara dan rakyat Pajajaran lenyap yang tertinggal hanyalah sebuah balai. Pusaka Ecis berubah pula menjadi rumput ligundi hitam.

Syarif Hidayat yang datang kemudian menyebut orang-orang Pajajaran yang bersembunyi di hutan seperti harimau. Seketika itu juga, orang-orang Pajajaran berubah menjadi harimau. Selama rumput ligundi hitam belum di cabut, mereka belum akan menjadi manusia. Lalu, Syarif Hidayat pergi ke Lebaksungsang menemui Cakrabuana yang sedang bertapa sambil bersawah. Cakrabuana diminta pulang ke Cirebon menghadiri pertemuan para wali. Lalu, ia pergi ke Mengajang menemui Syekh Bentong yang sebenarnya adalah putra Raja Majapahit bernama Banjaransari yang lebih di kenal dengan nama Jaka Tarub.

Pupuh keduapuluh lima
Kinanti, 28 bait
Jaka Tarub telah berhasil membuka hutan Penganjang, dan menikah dengan seorang bidadari. Putrinya, Nawangsari, juga sudah menikah dengan putra Majapahit, Raden Bondan, yang ikut mengerjakan ladangnya. Jaka Tarub alias Ki Bentong ingin sekali menjadi wali. Ia bertapa memati raga. Pada suatu saat, ketika tengah berbuka dari tapanya, Syarif Hidayat datang menjumpainya. Ucapan salam dari Syarif Hidayat tidak dihiraukan karena asyiknya berbuka. Tiba-tiba, Syarif Hidayat memetik selembar daun api-api, lalu membaca syahadat, seketika terciptalah seekor bebek yang kemudian merebut makanan Syekh Bentong hingga habis. Saking marahnya, bebek itu dipukul dan dibanting hingga mati oleh Syekh Bentong. Syarif Hidayat meminta agar bebeknya dihidupkan kembali, tetapi Syekh Bentong tidak mampu melakukannya.Dengan membaca syahadat, Syarif Hidayat dapat menghidupkan kembali bebeknya. Akhirnya, Syekh Bentong sadar bahwa kalimat syahadat itulah yang ia cari. Lalu, ia menyatakan ingin berguru kepadanya, tetapi oleh Syarif Hidayat hanya dianjurkan supaya pergi ke Cirebon.

Cerita kembali kepada Durakhman yang tengah menunggu panggilan Sunan Jati. Sudah sembilan bulan ia menanti di pintu gerbang tanpa tidur sekejappun. Jika merasa lelah duduk, ia berdiri membungkukkan badan. Jika merasa lelah berdiri, ia pun duduk bersandar di gerbang. Itulah sebabnya di depan istana Cirebon terdapat sebuah tempat yang dinamakan Lemahwungkuk.

Syarif Hidayat yang kemudian datang menemuinya menyatakan tidak mau mengajar di sembarang tempat karena pelajaran akan diberikan di tepi sebuah sungai, dan Durakhman harus membawa 100 buah kemiri untuk menghitung ilmu. Lalu, Durakhman berangkat ke tepi sungai. Beberapa waktu lamanya ia menunggu, Syarif Hidayat belum juga datang. Karena lamanya menunggu di sungai, Durakhman memanjat pohon itu. Belum sampai setengah batang, kemirinya berjatuhan ke sungai. Ia berusaha menyelam ke dalam air, tetapi kemiri tak ditemukannya. Ketika tengah meraba-raba buah kemiri, tiba-tiba datang air bah, dan Durakhman hanyut terbawa air hingga ke laut dan tenggelam ke dasarnya. Di dasar laut, ia melihat sebuah pulau yang cemerlang dengan hiasan aneka warna yang dikenal dengan nama Pulau Hening.

Pupuh keduapuluh enam
Balakbak, 22 bait
Di Pulau Hening, Durakhman bertemu dengan Nabi Kilir (Nabi Khidir) yang menasehatinya agar bertapa di Gunung Dieng. Nabi Kilir memberi bekal sebuah pisau. Ketika Durakhman tengah bertapa, tangannya mencoret-coret tanah membuat gambar-gambar yang tersusun menjadi sebuah cerita wayang. Gambar-gambar wayang di tanah itu ternyata lepas menjadi wayang-wayang yang dapat melakonkan segala macam cerita. Setelah wayang-wayang tersebut lengkap, tiba-tiba ada cahaya gemerlapan. Pisau di tangan Durakhman seketika lenyap dan sebagai gantinya tampak seorang pertapa.

Ternyata, pertapa itu adalah seorang raja zaman Budha bernama Konteya Darmakusuma atau Judhistira. Waktu itu, ia belum bernama Samiaji. Dialah yang dulu memiliki azimat Kalimasada. Judhistira menceritakan seluruh cerita wayang kepada Durakhman. Terakhir, ia menyerahkan Surat Kalimasada yang selama dipegangnya belum pernah ia baca karena tidak dapat membaca apa yang tertulis didalamnya. Durakhman kemudian membaca Surat Kalimasada diikuti oleh Konteya Darmakusuma. Sejak saat itu, Judhistira bernama Samiaji karena sama-sama mengkaji Surat Kalimasada dengan Durakhman. Dengan nama Samiaji, berarti pula ia menjadi pemeluk agama islam. Lalu, Durakhman meminta agar Samiaji pergi bersama ke Gunung Jati. Samiaji belum bersedia, tetapi ia berjanji suatu saat akan datang ke Cirebon apabila Gunung Jati memancarkan sembilan cahaya.

Pupuh keduapuluh tujuh
Durma, 33 bait
Cerita kembali ke keraton Majapahit. Ketika itu, Raja Brawijaya mengutus Adipati Terung untuk memanggil Raden Patah ke Majapahit karena Brawijaya berniat menyerahkan tahta kepadanya. Adipati Terung berusaha mencari Raden Patah sampai ke bonang, tetapi Raden Patah tidak mau pergi ke Majapahit sebelum rajanya masuk islam. Adipati Terung terus memaksa, sementara Raden Patah tetap bertahan. Akhirnya, tidak ada jalan lain kecuali mempersiapkan pasukan untuk berperang. Para Bupati Tuban, Tegal, Waleri, Lumajang, dan Japan yang diharapkan membantu Majapahit ternyata tidak ada yang bersedia. Semuanya berpihak kepada para wali. Tinggal Adipati Terung seorang yang memimpin tentara Majapahit. Meskipun demikian, dalam peperangan yang berlangsung, pasukan Bonang tidak mampu melawan pasukan Majapahit.

Pupuh keduapuluh delapan
Pangkur, 11 bait
Adipati Terung—dengan menggenggam keris pusaka si Gagak—maju ke medan perang. Tak seorangpun tentara Bonang yang berani melawan Adipati Terung. Demikian pula Raden Patah, ia pun kalah dan terlempar ke Gunung Kumbang.

Pupuh keduapuluh sembilan
Dangdanggula, 17 bait
Raden Patah yang terlempar ke Gunung Kumbang bertapa disana tujuh bulan lamanya. Kemudian, ia mendapat petunjuk Tuhan bahwa untuk mengalahkan Adipati Terung ia harus berguru kepada Sunan Jatipurba di Cirebon sebagai Puseurbumi. Ia pun segera berangkat menuju ke sana. Di Losari, ia bertemu dengan seorang tua yang memberinya sebuah panah bernama si Hantu. Orang tua itu tidak lain adalah Sunan Jati. Dalam peperangan yang berlangsung kemudian, Raden Patah berhasil membunuh adiknya sendiri, Adipati Terung dengan panah Hantu.

Pupuh ketigapuluh
Sinom, 22 bait
Meskipun panglima perangnya telah gugur, raja dan para pembesar Majapahit tetap tidak mau memeluk agama islam. Panembahan Paluamba membaca aji sikir yang berakibat raja serta para pembesar Majapahit menghilang ke dunia siluman, dan berkumpul di Tunjungbang.

Cerita kembali pada kisah para wali yang tengah berkumpul di Bonang mereka sepakat untuk menemui Syarif Hidayat di cirebon. Disana, Raden Patah diresmikan menjadi raja di Bintaro, dan dinikahkan dengan kemenakan sunan Jati yang berasa dari Mesir, Nyi Mas Ratu Pulunggana. Setelah pertemuan tersebut, para wali seluruhnya kembali ke Demak untuk merayakan penobatan dan pernikahan Raden Patah.

Sementara itu, durakhman yang telah menyelesaikan tapanya di Gunung Dieng langsung pergi ke Cirebon. Segala sesuatu yang diperolehnya di Dieng ia bawa. Setibanya di istana, ternyata baru saja para wali meninggalkan cirebon menuju Demak. Tetapi, baru saja ia beranjak pergi, terdengar suara mempersilahkan duduk yang keluar dari meja dan kursi, tanpa seorangpun. Tak lama kemudian, keluar teko serta cangkir mempersilahkan minum. Agak bingung juga Durakhman menyaksikan semua itu. Akhirnya, ia duduk saja menunggu disana selama sembilan malam.

Pupuh ketigapuluh satu
Asmaranda, 19 bait
Pupuh ini menceritakan pertemuan para wali di Cirebon. Ketika Sunan Gunung Jati baru kembali dari Mekah, ia membawa batu Mukadas dan peta kota Mekah untuk dijadikan contoh pembuatan masjid agung. Bersamaan dengan itu, para wali pun berdatangan ke Cirebon. Ketika melihat Syarif Hidayat, Pangeran Tuban bermaksud menyembahnya, tetapi Syarif Hidayat justru segera memeluk Durakhman. Pangeran tuban alias Durakhman, lalu menyerahkan Surat Kalimusada yang ternyata bunyinya sama dengan Kalimat Syahadat. Selain itu, diserahkan pula sebuah kitab kepada Sunan Jati yang di dalamnya tidak terlihat adanya tulisan, bahkan para wali pun tidak ada yang dapat melihat selain Pangeran Tuban. Kitab tersebut ternyata berisi ketentuan pangkat dan sebutan para wali.

Menurut kitab tersebut, Syarif Hidayat bergelar Kanjeng Sinuhun Cirebon; Syekh Giri Gajah bergelar Sultan Giri Gajah; Syekh Kamarullah bergelar Kanjeng Sunan Bonang; Ki Cakrabuana bergelar Sunan Jelang, Syekh Bentong bergelar Suhunan Bentong; Syekh Nusakambangan bergelar Sunan Kudus; Pangeran Kendal bergelar Pangeran Karangkendal atau Sunan Kedaton; Pangeran Panjunan bergelar Sunan Sasmita; Pangeran Kajoran bergelar Sunan Kejamus atau Pangeran Kejaksan; dan wali penutup Suhunan Kalijaga bergelar Suhunan Adi.

Pada kesempatan itu, para wali membuat singgasana kerajaan dan masing-masing mengeluarkan ilmunya berupa cahaya sehingga berpencaran sembilan macam cahaya yang memancar sampai ke gunung Dieng—mengingatkan pada janji Samiaji yang akan segera datang ke Cirebon bila ada sembilan cahaya bersinar. Ternyata, Samiaji tidak bersedia menerima sembah para wali. Tak lama kemudian, ia meninggal dan dikebumikan di Jatimulya.

Pupuh ketigapuluh dua
Sinom, 18 bait
Seorang murid syarif Hidayat bernama Ki Gedeng Palumbon sudah tiga tahun belajar agama islam, namun merasa bosan karena berulang kali ia hanya hanya disuruh menghafal kalimat syahadat. Akhirnya, ia mengundurkan diri karena kecewa terhadap pelajaran yang diterimanya. Ia pun kembali ke kampung halamannya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Ki Gedeng Kemuning yang hendak berguru kepada Sunan Jati. Ki Gedeng Palumbon berusaha mempengaruhi Ki Gedeng Kemuning karena menurutnya untuk apa berguru kepada Sunan Jati yang diajarkannya hanya syahadat, azan, komat, dan takbir. Akan tetapi, Ki Gedeng Kemuning tidak terpengarh oleh bujuk rayunya, dan ia tetap hendak berguru kepada Sunan Jati. Oleh Sunan Jati, Ki Gedeng Kemuning bersama Ki Gedeng Pamijahan, Ki Jopak, Ki Kaliwedhi, Ki Gedeng Babadan, Ki Bungko, Ki Judi, Ki Gebang, Ki Gedeng Mundu, Kiyai Wanasaba, dan Ki Kalijati diajarkan berbagai macam ilmu, antara lain, syahadat, salat, zakat, puasa, dan berbagai jenis tarekat, seperti Satariyyah, Naksabandiyah, serta Muhammadiyah. Selesai berguru, Ki Gedeng pulang ke Kuningan, dan tak lama kemdian, ia meninggal.

Jenazah Ki gedeng Kemunig membengkak besar sekali. Kebetulan, Ki gedeng Palumbon juga melayat. Mayat yang membesar itu, menurut Ki Gedeng Palumbon, disebabkan oleh ilmu yang diajarkan Sunan Jati. Bersamaan dengan itu, datanglah seorang murid Sunan Jati yang berasal dari Gebang bernama Kamil. Kedatangannya berniat memandikan mayat. Mula-mula, mayat Ki Gedeng Kemuning menjadi semakin besar dan mengeluarkan bau busuk. Lalu, mengecil dan berganti menyebarkan bau harum. Melihat keadaan itu, Ki Gedeng Palumbon terkejut dan kagum. Ia pun kembali ke Cirebon dan ingin berguru lagi kepada Sunan Jati. Oleh Sunan Jati, ia disuruh bertapa di Gunung Cigugur.

Pupuh ketigapuluh tiga.
Kinanti, 38 bait
Pupuh ini menceritakankisah sayembara memperebutkan Putri Panguragan. Nyi Panguragan atau Ratu Emas Gandasari mengadakan sayembara : Barang siapa yang mampu mengalahkan dirinya, jika ia laki-laki, dialah yang akan menjadi suaminya. Melalui sayembara itu, banyak orang yang ingin tampil untuk mencoba kesaktiannya guna mengalahkan Gandasari. Tetapi, tak seorangpun yang dapat mengalahkannya hingga datanglah seorang satria dari negeri Syam bernama Pangeran Magelung.

Dinamai Pangeran Magelung karena rambutnya digelung karena sejak kecil hingga dewasa tidak ada pisau cukur yang mempan untuk memotong rambutnya. Ia pergi ke Cirebon untuk menemui sunan Jati. Setibanya di Karanggetas, ia bertemu dengan seorang kakek-kakek yang mampu memotong rambutnya hanya dengan jari tangan. Ketika Magelung menoleh, kakek yang menggunting rambutnya sudah tidak ada. Lalu, Magelung meneruskan perjalanan hingga sampai di tempat sayembara dan memasuki arena pertandingan. Dalam pertandingan ini, Ratu Emas Gandasari ternyata dapat dikalahkan oleh Pangeran Magelung. Ketika hampir tertangkap, gandasari berlindung pada Sunan Jati.

Pupuh ketigapuluh empat
Dangdanggula, 14 bait
Akhirnya, Pangeran Magelung dijodohkan dengan Ratu Emas Gandasari. Namun, mereka berjanji tidak akan berkumpul selagi masih di dunia, kecuali kelak di akhir zaman. Menurut kitab Babul, kediaman Ratu Emas Gandasari tidak hanya satu. Kadang-kadang, ia berada di Pulau Kuntul (Bangau). Sekarang, pulau bangau itu bernama pulau Kencana atau pulau Karas atau di bangsal Karangsuwung. Jika ke barat, ia tinggal di Ujungsori.

Dalam pada itu, para wali—Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, dan Sunan Kudus—sering berkumpul untuk membicarakan syareat Rasul, usul fikh, serta kitab Fakulwahab.

Pupuh ketigapuluh lima
Menggalang, 17 bait
Pupuh ini menceritakan persiapan Kerajaan Galuh yang berniat menyerang Keraton Cirebon. Pada suatu hari, Raja Galuh mengumpulkan para ponggawanya, antara lain, Sanghyang Gempol, Sanghyag Sutem, Celengigel,

Dalem Ciomas, dan Dalem Kiban guna membicarakan negara Cirebon di bawah pimpinan Sunan Jati. Pertemuan tersebut mengambil keputusan, yakni meminta pajak terasi. Para senapati galuh telah mempersiapka diri, antara lain, Sanghyang Gempol, Sanghyang Sutem, Dalem Kiban, Dalem Ciamis, Dalem Ciomas, Suradipa, dan Kyai Limunding. Setelah persiapan selesai, pasukan Galuh segera berangkat menuju Cirebon.

Pupuh ketigapuluh enam
Sinom, 8 bait
Dalam perjalanan menuju Cirebon, pasukan Galuh mengadakan perkemahan di perjalanan. Sementara itu, Pangeran Arya Kemuning anak Ki Gedeng Kemuning sangat rindu pada Sunan Jati dan bersiap-siap hendak menghadap ke Cirebon diiringi oleh Patih Waruangga dan Anggasura, serta para mantri.

Pupu ketigapuluh tujuh
Dangdanggula, 15 bait
Barisan pasukan dari kuningan yang berjalan ke arah barat bertemu dengan pasukan Galuh. Bersamaan dengan itu, Raden Patah juga pergi ke Cirebon—saat para wali masih berkumpul untuk membangun masjid dan mendiskusikan agama Islam.

Pupuh ketigapuluh delapan
Asmaranda, 13 bait
Kedatangan Sultan Demak di Cirebon bermaksud membicarakan perkawinan putrinya Pulungnyawa dengan putra Sunan Jati. Perkawinan akan segera dilangsungkan di Demak. Ketika para wali bersiap-siap hendak berangkat ke Demak, datanglah Arya Kuningan yang mengabarkan adanya pasukan Galuh yang akan menyerang Cirebon. Namun, para wali tetap berangkat ke Demak, sementara musuh dari Galuh diserahkan kepada Arya Kemuning yang segera mengatur barisannya di Gunug Gundul.

Pupuh ketigapuluh sembilan
Durma, 24 bait
Utusan Arya Kemuning, Ki Anggarunting, ditugasi menyelidiki kekuatan pasukan Galuh. Ia pergi bersama Ki Anggawaru. Tak lama kemudian, Ki Anggarunting bertemu dengan Dipasara dan Kyai Limunding dari pihak Galuh. Dalam pertempuran pertama, pasukan Kuningan terdesak. Arya Kemuning maju membantu yang membuat barisan Palimanan berantakan. Barisan pasukan Ciamis pun diterjang oleh kuda tunggang Arya Kemuning yang bernama Wisnu.

Pupuh keempat puluh
Asmarandana, 10 bait
Pasukan Galuh yang dipimpin oleh senapati Dipati Kiban yang mengendarai seekor gajah terus melakukan serangan. Serangan Dipati Kiban ini dihadapi oleh Dalem Kuningan.

Pupuh kempatpuluh satu
Pangkur, 27 bait
Perang tanding antara Arya Kemuning yang mengendarai kuda Wisnu melawan dipati Kiban yang mengendarai gajah berlangsung seimbang dan lama sekali. Meskipun sudah berlangsung lama, namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah. Demikian asyiknya mereka berlaga, dorong mendorong hingga ke ujungtuwa di tepi pantai. Tak ayal lagi, dua-duanya tercebur ke laut dan lenyap dari pandangan mata. Melihat senapatinya lenyap, kedua belah pihak mengundurkan diri dan melapor kepada rajanya masing-masing.

Pupuh keempatpuluh dua
Sinom, 18 bait
Kuwu Sangkan alias Cakrabuwana memohohon izin kepada Sunan Jati untuk membantu pasukan Kuningan ke medan perang. Tetapi, Sunan Jati tidak menyetujuinya. Ki Kuwu Sangkan tetap memaksakan diri, dan ia pun berangkat ke medan perang. Ki Kuwu Sangkan seperti orang linglung. Ia pun tersesat ke gunung Panawarjati, dan akhirnya tafakur disana. Kemudian, sepeninggal Kyai Sangkan datanglah Anggasura yang melaporkan keadaan peperangan kepada Sunan Jati hingga hilangnya Arya Kemuning bersama Dalem Kiban. Munurut Sunan Jati, keduanya masih tetap bertempur di lautan.

Kemudian pihak Cirebon menyusun bala bantuan dan segera diberangkatkan ke medan perang d bawah pimpinan Patih Keling. Dalam pertempuran lanjutan, pasukan Cirebon beserta para Manggalayuda terdesak hebat oleh pasukan Galuh. Kesaktian para pemimpin pasukan Galuh tak terlawan oleh para panglima pasukan Carbon. Pada waktu itu, prajurit sudah tidak ikut bertempur. Mereka hanya disuruh bersorak-sorai memberi semangat kepada para pimpinannya yang sedang melakukan perang tanding. Tetapi, karena pimpinannya terdesak, mereka pun lari mengundurkan diri.

Pupuh keempatpuluh tiga
Pangkur, 10 bait
Pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur, Ki Kuwu Sangkan masih tetap bertafakur di gunung Panawarjati. Ia menyesal karena telah mendahului kehendak kemenakannya, Sunan Jati. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang berasal dari sebatang pohon randu yang isinya menyatakan bahwa ia telah dimaafkan oleh kemenakannya dan diminta segera membantu pasukan Cirebon yang sedang terdesak.

Cakrabuwana alias Ki Kuwu Sangkan langsung menuju medan pertempuran. Ia mendengar suara di angkasa yang menantang Sunan Jati. Itulah suara Sanghyang Gempol, salah seorang sakti dari Galuh yang mengendarai kuda terbang. Cakrabuwana teringat akan segala jenis pusakanya seperti badhong, bareng, kopiah, umbul-umbul, dan golok Cabang segera melesat ke udara mengejar Sanghyang Gempol. Ke arah mana pun Sanghyang Gempol pergi dan bersembunyi, golok selalu membuntuti.

Selesai.

p.s.